Tampilkan postingan dengan label Kisah Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Rasulullah, pengemis tua, dan uang satu sen…..


Cucu-cucuku tersayang, perempuan maupun laki-laki. Tuhan telah menempatkan seluruh kekayaan-Nya di dalam diri kita. Dia telah menganugrahkan kepada kita kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Temukanlah khazanah ini melalui perilaku yang baik. Kekayaan itu benar-benar ada, namun tersembunyi jauh di dalam diri kita. Kita sendirilah yang telah menguburnya, terpendam oleh rasa iri dan dengki, dan kini kita musti menggalinya dalam-dalam untuk memperoleh kembali kekayaan itu. Kita musti mengeruk dan menepis jauh-jauh kegelapan untuk memperolehnya.
Anak-anakku terkasih. Untuk menjelaskannya, ijinkan aku bercerita tentang sebuah kisah. Cerita tentang Rasulullah s.a.w.
Di kota Madinah, tersebutlah seorang tua. Hidupnya sangatlah nestapa. Kesulitan demi kesulitan menimpanya, masalah demi masalah. Ia mengadukan nasib hidupnya ini kepada orang-orang yang kemudian menyuruhnya pergi ke tempat ini dan itu. Awalnya ia memohon kepada raja dan raja berkenan membantunya, namun pak tua itu tak beroleh banyak dari uluran tangannya. Lalu ia pergi ke para guru yang kemudian membantunya ala kadarnya, namun ia tetap miskin. Tampaknya tak seorang pun sanggup mengangkat kesulitan yang dihadapinya. Tak satu pun cara mampu mengubah keadaannya. Dan tiada henti ia bertanya siapa gerangan yang dapat mengakhiri kesengsaraan hidupnya ini.
Lalu, seseorang memberi nasihat kepadanya, “Temuilah Rasulullah s.a.w. dan mintalah tolong kepadanya. Ia tinggal di ujung sana. Pergilah kepadanya.”
Maka pengemis tua itu pergi menemui Muhammad s.a.w., “Wahai, Rasulullah. Kehidupanku sungguh sulit,” ujarnya. “Aku datang meminta tolong kepadamu demi mengakhiri kenestapaan ini.”
“Wahai, saudaraku, sebab itukah kau datang kemari? Bagus sekali,” jawab Rasulullah s.a.w. “Baiklah, kini serahkan kepadaku semua yang kau miliki.”

“Wahai Rasulullah, aku tak punya apa-apa!” seru orang tua itu.
“Tak punya sama sekali? Sungguh sulit memang bila kau tak punya apa-apa. Pastilah engkau memiliki sesuatu. Ada satu hal yang semestinya kau miliki agar kesulitanmu itu sirna. Tahukah kau apa itu? Satu hal itu adalah Allah s.w.t. Jika engkau ‘memiliki’ Allah, maka tiada yang akan menyulitkanmu. Namun bila tidak, engkau akan senantiasa dirundung kesengsaraan. Engkau hanya akan menjadi kaya bila engkau memiliki yang satu itu.”
“Benarkah?” tanya pak tua.
“Tentu. Maukah engkau menyimpan satu hal itu?”
“Bilamana saja aku memilikinya, sepertinya aku akan menyimpannya. Tapi kini aku tak memilikinya,” keluh pengemis tua itu.
“Baiklah. Pertama, teguhkanlah imanmu, keyakinanmu. Ucapkan, ‘La ilaha ill-Allahu Muhammadur-Rasulullah: tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-nya’. Ini adalah jalan menuju kekayaan itu. Maka pertama, tegakkan jalan itu di hatimu yang terdalam, di dalam qalb-mu. Namun sekarang, serahkan padaku segala yang kau miliki.”
“Apa maksudmu?” tanya pak tua itu.
“Serahkan saja padaku apa saja yang kau miliki. Apakah kau tak punya sesuatu yang bisa kau berikan padaku?”
“Ya. Aku punya satu sen.”
“Berikan padaku,” ujar Rasulullah s.a.w. dan pak tua itu pun menyerahkan uangnya satu-satunya.
Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, “Apa lagi yang engkau punya selain ini?”
“Tidak ada. Cuma itu.”
“Jika cuma ini yang kau miliki, mustinya tiada yang akan menyulitkanmu. Tapi engkau menyimpan duka lara itu, kemiskinanmu, kenestapaanmu. Serahkan itu semua kepadaku, dan simpan apa yang tadi kuberikan kepadamu: Kalimah itu. Berikan padaku yang lainnya, pikiran-pikiranmu, masalahmu, dan kesedihanmu. Simpan kekayaan Allah dan buang segala duka dan apa saja yang menyengsarakanmu. Serahkan kepada Allah s.w.t.”
Maka Rasulullah s.a.w. mengambil uang itu dengan satu tangan, lalu memindahkannya ke tangan yang lain. Dan diserahkannya kembali uang itu kepada pak tua seraya berkata, “Ini adalah rahmat, kekayaan Allah. Ini, ambillah. Ambil ini dan jalankan perdagangan dengan baik.”
“Perdagangan macam apa yang bisa kujalankan hanya dengan satu sen?” tanya pak tua itu heran.
“Uang itulah perdagangannya,” jawab Muhammad s.a.w.
“Tapi bagaimana aku bisa berdagang hanya dengan satu sen?” ujarnya terus.
“Bukankah engkau berjanji akan menyimpan kekayaan lain yang tadi keserahkan kepadamu. Simpan itu. Ambillah pula uang ini, dan berdaganglah dengannya. Ambillah, dan jalani hidupmu.”
Maka pak tua itu pun mengambil uangnya, walau dengan sedikit kebingungan, “Bagaimana mungkin aku berdagang dengan hanya satu sen ini?! Engkau hanya mengembalikan uangku. Engkau tak memberiku sesuatu yang lain!”
“Aku mengubahnya. Engkau berikan kepadaku dan aku mengubahnya. Kini uang itu bukan sekedar satu sen. Sebelumnya memang satu sen, namun ketika aku mengambilnya, aku memindahkannya dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Kini uang itu tak lagi satu sen. Uang itu kini adalah rahmat, kekayaan Tuhan. Ambillah, itu adalah rahmat.” Maka orang tua itu mengambilnya dan pergi.
Pada saat yang sama, sang raja sedang menderita bengkak yang amat parah di kakinya, penuh nanah dan darah yang tak seorang pun sanggup menyembuhkan. Lalu salah seorang tabib memberi nasihat kepada sang raja, “Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan meletakkan satu sen di atas luka itu. Maka bengkak itu pun akan sembuh.”
Maka sang raja memerintahkan para menterinya untuk mencari orang yang memiliki satu sen. Tepat ketika itu pula, pak tua tadi berdiri tak jauh dari situ seraya memandangi uang miliknya dan merenungi bagaimana cara menggunakannya. Salah seorang menteri menemukan pak tua itu, lalu membawanya ke hadapan sang raja. “Apa yang ada di tanganmu itu? Serahkan padaku. Aku akan mengganti dengan satu kepeng untuk satu sen uangmu,” ujar sang raja, dan pengemis tua itu pun memberikan satu sen uangnya. Sang raja menyerahkan satu kepeng, dan meletakkan satu sen di atas lukanya. Karena uang itu mengandung rahmat Rasulullah s.a.w., bengkak di kaki sang raja pun mengering seketika dan tak lama kemudian sembuh.
Riang rasanya hati pak tua. Ia mengambil uang pengganti itu dan pergi untuk membeli unta, sapi, kambing, sebidang tanah, dan kurma. Ternak dan kebunnya tumbuh pesat, jumlahnya pun berlipat. Dan tak lama kemudian, ia pun telah memiliki berbagai buah-buahan, kurma, susu dan sari kurma. Ia membungkusnya dan membawanya kepada Rasulullah s.a.w. yang memandangnya seraya berkata, “Wahai saudaraku, apa ini semua?”
“Wahai, manusia agung. Allah s.w.t. telah memberiku kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Kini aku mengerti. Engkau memberiku satu kepeng lewat satu senku itu, dan begitu banyak kekayaan mendatangiku semenjak itu, dan kini aku membawanya di hadapanmu.”
“Benarkah?” kata Rasulullah s.a.w. “Bagus sekali. Allah-lah yang telah menganugerahkannya bagimu. Dan kepada siapa engkau membagi semuanya ini? Apakah engkau berbagi dengan orang lain yang berkesulitan seperti yang engkau alami dulu?”
“Tidak, aku belum berbagi dengan siapa-siapa. Aku ingin menghadiahimu terlebih dulu. Aku telah memiliki rumah, istana, benteng, kebun kurma yang luas, unta, sapi, kerbau, dan kekayaan yang melimpah.”
“Ingatkah engkau akan kesengsaraanmu dulu?” tanya Rasulullah s.a.w. “Bukankah bila engkau ingat dan mengerti, pasti engkau akan membantu semua fakir miskin di sekelilingmu? Engkau seharusnya membantu mereka. Allah s.w.t. telah memberimu banyak sekali, dan sudah semestinya engkau berbagi dengan mereka. Bagilah kekayaan yang telah Tuhan anugerahkan itu kepada mereka yang kelaparan, nestapa, dan miskin. Bantu mereka. Kini, pergi dan bantulah mereka.”
“Allah s.w.t. adalah satu-satunya kekayaanku. Dialah kekayaan yang telah Dia berikan kepadaku. Aku tak menginginkan kekayaan yang Dia anugerahkan kepadamu. Berbagilah dengan orang-orang di sekitarmu.” Inilah yang dikatakan Rasulullah kepada pak tua itu.
Seperti itulah, cucu-cucuku. Jika engkau bertemu dengan seorang Guru atau Syeikh seperti Rasulullah s.a.w ini, maka sang Guru akan mengubah apapun yang engkau berikan kepadanya. Jika engkau memberinya satu sen, ia akan mengubahnya. Dan jika engkau menerima dengan hati-hati apa yang ia kembalikan kepadamu, maka rahmat itu akan menjadi kekayaanmu. Ia akan mengubahnya, dari tangan yang satu ke tangan yang lain, dan mengembalikan kepadamu sebagai rahmat, kekayaan Allah. Itu akan menjadi kekayaanmu yang sesungguhnya, kekayaan yang tiada habisnya.
Apapun yang engkau bawa kepadanya, pikiran, pengetahuan, daulat dan harta, perilaku yang baik, ia akan mengubahnya dengan memindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain, lalu ia akan menyerahkannya kembali kepadamu. Ia tak akan menyimpannya, karena hanya Allah yang ia butuhkan. Ia akan menerimanya, memindahkannya dari tangan satu ke tangan yang lain, lalu menyerahkannya kembali sebagai rahmat. Ia akan melipatgandakan apa yang engkau berikan dan mengembalikannya kepadamu.
Namun jika engkau menganggap, “Ah, ia tak memberiku apa-apa!” maka itu adalah kesalahanmu, keraguanmu sendiri. Jika engkau memiliki iman dan keyakinan yang teguh, maka apapun yang engkau berikan akan berlipat ganda. Seperti halnya dirimu sendiri yang tumbuh dari sebintik atom lalu menjadi bentuk, begitulah kekayaanmu akan berkembang. Pengetahuan ilahiah yang dikenal sebagai ‘ilm, kekayaanmu, kekayaan mubarokat, semuanya tumbuh dari sebintik atom, dan engkau musti teguh berjuang untuk memperolehnya.
Sang Syeikh akan mengubah dan melipatgandakan apa saja yang engkau berikan kepadanya. Jika engkau ajukan dirimu, jika engkau serahkan segala pikiranmu, dan jika engkau hadir secara penuh di dalam dirinya, maka keutuhan itu akan menjadi kekayaanmu. ‘Ilm, pengetahuan ilahiah itu, akan menghiasi kehidupanmu. Namun jika engkau enggan meneguhkan imanmu dan keyakinanmu, maka engkau akan gagal. Keraguan akan senantiasa meliputimu, dan hidupmu akan jatuh. Itu akan menjadi siksaanmu, kesengsaraanmu, kepedihanmu.
Cucu-cucuku, serahkan seluruh tanggungjawab kepada Guru-mu, dan ambil apa yang diberikannya kepadamu. Ia akan mengganti sebintik atom itu dengan cahaya cemerlang yang bertebaran. Ia akan menukarnya dengan kekayaan rahmat yang melimpah, dan menyerahkannya kembali kepadamu. Percayalah. Pikirkan tentang hal ini, cucu-cucuku.
Jangan mengira bahwa Syeikh akan menghadiahimu rumah atau istana atau bank. Tidak seperti itu. Ia mengubah apa-apa yang kau bawa kepadanya. Yakinilah. Ia mengambil segala yang kau berikan kepadanya dan mengubahnya menjadi surga, kerajaan Tuhan, mubarokat Allah, sifat-sifat-Nya, tindakan-Nya, kemurahan-Nya, dan ‘iman‘-Nya. Ia meneguhkan itu semua, dan itu yang akan menjadi kekayaanmu yang sebenarnya. Tanpa merusaknya, ia akan membuat pemberian itu tumbuh dan berkembang. Teguhkan iman dan keyakinanmu tentang kekuatan itu, maka kekayaan hidupmu tiada akan pernah habis. Kekayaan ‘ilm, kekayaan mubarokat tak akan musnah. Pikirkanlah. Inilah yang ia akan berikan kepadamu. Ia akan ambil apapun yang kau berikan kepadanya dan mengubahnya dengan cara seperti itu. Ia tak akan memberimu selain apa yang telah engkau berikan kepadanya. Ia akan ambil apapun yang kau berikan kepadanya, menyerahkannya kepada Allah, dan mengembalikannya kepadamu. Ini adalah
baidah-nya, kekayaan kasat mata yang ia akan serahkan kembali kepadamu. Pikirkanlah.
Berjuanglah untuk memperoleh rahmat-Nya. Cucu-cucuku yang kukasihi. Semoga Allah melindungimu dengan kasih sayang-Nya. Amin.
* * *
diterjemahkan dari salah satu bagian dari buku “My Love You My Children” karya Baha Muhaiyaddeen. imnoexis!

Selasa, 06 September 2011

Kisah Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama Dua Tamunya


Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.

Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.

Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, "Maha Suci Allah, apa ini?"

"Sudahlah, lanjutkan perjalanan!" jawab keduanya.

Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Rasulullah pun bertanya, "Subhanallah, apa pula ini?"

Kedua tamunya menjawab, "Sudah, menjauhlah!"

Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.

Rasulullah kembali bertanya, "Siapa mereka?"

Kedua tamunya menjawab, "Menjauhlah, menjauhlah!"

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.

Rasulullah pun bertanya, "Apa yang dilakukan orang ini?!"

"Menjauhlah, menjauhlah!" jawab kedua tamunya.

Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.

"Apa ini?!" tanya Rasulullah

"Menjauhlah, menjauhlah!" jawab kedua tamunya.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.

Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, "Apa ini? Dan siapa mereka?"

Kedua tamunya menjawab, "Menjauhlah, menjauhlah!"

Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, "Naiklah ke pohon itu!"

Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, "Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!"

Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!

Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, "Ini adalah Surga 'Adn, dan inilah tempat tinggalmu!"

"Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada', sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika'il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu)."

Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, "Inilah tempat tinggalmu!"

Rasulullah berkata kepada mereka, "Semoga Allah memberkati kalian."

Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, "Tidak sekarang engkau memasukinya!" [1]

"Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?" tanya Rasulullah kepada mereka.

Keduanya menjawab, "Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur'an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.

Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah."

...

Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?"

Rasulullah menjawab, "Dan anak orang-orang musyrik."

Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.

Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. []


Maraji': Riyadhush Shalihin

_______________
Catatan kaki:

[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah, "Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu." (HR. Bukhari)


Sumber : cerita pengalaman

Senin, 05 September 2011

Pembicaraan Iblis Dengan Nabi muhammad SAW



 
Dari Muadz bin Jabal dari Ibn  Abbas:
 Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman  seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar
panggilan seseorang dari  luar rumah:
“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? sebab kalian akan  membutuhkanku. ”

Rasulullah bersabda:”Tahukah kalian siapa yang  memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih  tahu.”
Beliau melanjutkan, “itu iblis, laknat Allah  bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai  Rasulullah”
Rasulullah menahannya:
“Sabar wahai Umar, bukankah  kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat?
 Lebih  baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini,
  pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan  baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka,  ternyata dia
seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapa 7 helai rambut  seperti rambut kuda,
taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya  seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu  para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab:  Salam hanya  milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa  keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas  kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang  memaksamu?”
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku  dan berkata:
“Allah  SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan  diri.
Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia.
Jawabalah  dengan jujur semua pertanyaannya.
Demi kebesaran Allah, andai kau  berdusta satu kali saja,
maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup  angin.“
oleh  karena itu aku sekarang mendatangimu.
Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan.
 jika aku  berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku.
 tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku  daripada cacian musuh.”

Orang  Yang Dibenci Iblis
Rasulullah  SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur,  siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk  Allahyang paling aku  benci.”
“Siapa  selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi  kepada Allah SWT.”
“lalu siapa  lagi?”
“Orang Aliim dan wara ‘  (Loyal)”
“Lalu siapa  lagi?”
“Orang  yang selalu  bersuci.”
“Siapa  lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah  mengeluhkan kesulitannnya kepda oranglain.“
“apa tanda  kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya  kepada orang lain selama 3  hari, Allah akan memberi pahala orang -orang  yang sabar.”
“Selanjutnya  apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“apa tanda  kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan  mengeluarkannya juga dari tempatnya.”

“Orang seperti apa Abu  Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam  Islam.”
“Umar bin  Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku  pasti kabur.”
“Usman bin  Affan?”
“Aku  malu kepada orang yang  malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi  Thalib?”
“Aku  berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan  aku melepaskannya.
 tetapi ia tak akan mau melakukan itu.”  (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang  Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan  jika melihat seseorang dari umatku yang hendak  shalat?”
“aku  merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x  kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku  berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia  berbuka.”
“Jika ia  berhaji?”
“Aku  seperti orang  gila.”
“Jika ia membaca  al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas  api.”
“Jika ia  bersedekah?”
“Itu sama sajaorang tersebut membelah tubuhku  dengan gergaji.”
“mengapa bisa  begitu?”
“sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya.  yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai,
 sedekah itu kelak  akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam  musibah akan terhalau dari dirinya.”
“apa yang dapat mematahkan  pinggangmu?”
“suara kuda perang di jalan  Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan  tubuhmu?”
“taubat orang yang bertaubat.”
“apa yang dapat membakar  hatimu?“
“istighfar di waktu siang dan  malam.”
“Apa yang dapat mencoreng  wajahmu?”
“sedekahyang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk  matamu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul  kepalamu?”
“Shalat  berjamaah.”
“Apa yang paling  mengganggumu?”
“Majelis para  ulama.”
“bagaimana cara  makanmu?”
“dengan tangan kiri dan  jariku.”
“dimanakah kau menaungi  anak – anakmu di musim panas?”
“di bawah kuku  manusia.”
Manusia Yang Menjadi  Teman Iblis
Nabi  lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai  Iblis?”
“Pemakan riba.”
“Siapa  sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman  tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa  tamumu?”
“Pencuri.”
“Siapa  utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu  gembira?”
“Bersumpah dengan  cerai.”
“Siapa  kekasihmu?”
“Orang  yangmeninggalkan  shalat jumaat”
“Siapa manusia yang paling  membahagiakanmu?”
“orang  yang meninggalkan shalatnya dengan  sengaja.”

Iblis Tidak Berdaya Di  hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu  bersabda : “Segala puji bagi Allah  yang telah membahagiakan umatku dan  menyengsarakanmu.”
Iblis segera menimpali: “tidak,tidak… tak akan ada kebahagiaan  selama aku hidup hingga hari akhir.
Bagaimana kau bisa berbahagia  dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan  mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga  hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua.
Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca,yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba  Allah yang  ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas  menurutmu?”
“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa  barang siapa yang menyukai  emas dan perak, ia bukanorang yang  ikhlas.
 Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan  dirham, tidak suka pujian  dan sanjungan,
 aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku  meninggalkannya.
 Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan  dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh  padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak –  anaknya

Tahukah kamu  Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki  70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk  menggangu anak – anak muda,
 sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk  menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan  kepada para Zahid.
Aku punya anak ynag suka mengencingi telinga  manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah.
 tanpanya,  manusia tidak akan  mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di  mata orang yang sedang  mendengarkan ceramah ulama
hingga mereka tertidur dan pahalanya  terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan  kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia,
 maka 99% pahalanya akan  terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan  duduk di pinggul dan pahanya,
 lalu menghiasinya agar setiap orang  memandanginya.
Syaithan juga berkata,”keluarkan tanganmu”, lalu  ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi  kukunya.
mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu  kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya
untuk menggoda  manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya  mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada  rahib yang telah beribadat  kepada Allah selama 70 tahun.
 Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya  hingga ia berzina, membunuh dan kufur.
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari  diriku?

Akulah mahluk pertamayang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa  bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau  Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah  bahwa aku benar – benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah  kegemaranku.
Ghibah (gosip) dan Namimah (Adu domba)  kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk  menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan  walaupun ia benar.
 sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata  cerai, isterinya menjadi haram baginya.
 Kemudian ia akan beranak cucu  hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka  hnaya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu  ada yang suka mengulur  ulur shalat.
Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya  waktu masih lama, kamu masih sibuk,
 lalu ia manundanya hingga ia  melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya  kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat.  Namun aku bisikkan ke telinganya ‘ lihat kiri dan kananmu ‘ , iapun  menoleh.
 pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya  serta aku katakan ‘ shalatmu tidak sah ‘
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam  shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia  untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayamyang mematuk beras.
jika ia  berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan  tali,
hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya  sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan  wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil  mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat.
 Jika  ia tidak menutup mulutnya  ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya  menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan iapun semakin taat  padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangkan aku  memerintahkan orang miskin  agar meninggalkan shalat.
 aku katakan padaknya, ‘ kamu tidak wajib shalat, shalat hanya  wajib untuk orang yang  berkecukupan dan sehat.
 orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau  shalat. ‘
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil  meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam  kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan  menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira  dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari  islam?”
10  Permintaan Iblis kepada Allah SWT
“berapa yang kau pinta dari  Tuhanmu?”
“10  macam”
“apa  saja?”
“aku  minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia,  Allah mengizinkan. Allah berfirman, “berbagilah dengan manusia dalam  harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali  tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang  tidak dizakatkan, aku makan darinya. akujuga makan dari  makanan haram dan yang  bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidakdibacakan nama  Allah.
Aku minta  agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan  istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan  anak yang dilahirkan akan  sangat patuh kepada syaithan.
aku minta agar bisa ikut bersama  dengan orang yang menaiki  kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
aku minta agar Allah menjadikan kamar  mandi sebagai rumahku.
aku minta agar Allah menjadikan pasar  sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai  Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman  tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia  jadikanorang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah  berfirman, “Orang  -orang bros adalah  saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).
Wahai Muhammad,  aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara  mereka tidak bisa  melihatku.
dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk  mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”,  aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
sebagian besar manusia  bersamaku di hari kiamat.

Iblis berkata : “wahai muhammad,  aku tak bisa menyesatkan  orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan  menggoda.”

jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.
sebagaimana  dirimu, kamu tidak bisa  memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan  amanah.
jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir  pun di muka bumi ini.
kau hanya bisa menjadi penyebab  untuk orang yang telah  ditentukan sengsara.

Orang  yang bahagia adalah orang  yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya.
Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu  membaca ayat :”mereka akan terus  berselisih kecuali orang  yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 –  119)  juga membaca, “Sesungguhnya  ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab :  38)

Iblis lalu  berkata: “wahai Rasul Allah takdir  telah ditentukan dan pena takdir telah kering.
Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para  nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga,
dan yang telah menjadikan aku pemimpin  mahluk – mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka.
aku si  celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku  sampaikan kepadamu. dan aku tak  berbohong.“

Sumber : Gelora sriwijaya

Kamis, 25 Agustus 2011

Rasulullah juga pernah ditegur oleh Allah swt..

Kita sebagai manusia sangat sukar untuk menerima teguran atas kekhilafan diri sendiri. Semakin sukar apabila si penegur adalah orang bawahan atau pekerja kita. Ini berlaku di mana-mana saja kita berada. Teguran dan nasihat amat penting untuk kita cepat sadar dan seterusnya bangun memperbaiki diri. Namun, bukan semua mampu berbuat demikian.

Syeikhul Islam, Ibnu Taimiyyah sendiri pernah menegur panglima zalim, Mahmud Ghazan ketika tentera beliau menjarah kota Baghdad. Bergitu juga apabila wali Allah, Sheikh Abdul Kadir al-Jailani yang menerima teguran daripada seorang ketua perompak. Ketua perompak itu menegur Sheikh Abdul Kadir untuk memperingati semua ilmu-ilmu yang diperolehinya bukannya bergantung kepada buku. Peristiwa itu berlaku semasa buku-buku Sheikh Abdul Kadir al-Jailaini dirampas dalam satu perjalanan menimba ilmu. Sejak itu, beliau terus menghafal setiap ilmu yang diperolehinya.
Tidak kira kita siapa, teguran mesti diterima dengan hati yang terbuka dan berlapang dada. Percayalah, setiap teguran ada hikmahnya. Lihatlah teguran seorang perompak kepada seorang wali. Bagaimana teguran seorang perompak mampu mengubah 360 darjah cara pembelajaran seorang wali Allah. Itulah hikmahnya wahai saudara.
terimalah teguran dengan hati yang terbuka.

Percayalah bahawa, junjungan besar kita, Rasulullah saw beberapa kali ditegur oleh Allah swt dan ia disampaikan melalui wahyu. Jika melalui wahyu, ini bermakna, sehingga kiamat kita sebagai orang mukmin akan sentiasa membaca teguran Allah swt tersebut di dalam Al-Quranul karim.
Persoalannya, adakah Rasulullah menyembunyikan wahyu tersebut daripada kaum muslimin ketika itu? Jawapannya adalah tidak sama sekali. Rasulullah saw jika menerima wahyu baru daripada Jibrail as, beliau segera akan memanggil penulis wahyu iaitu Zaid bin Tsabit untuk berada di sampingnya. Itulah kelebihan dan sifat amanah Rasulullah saw yang wajib kita contohi yang mana tidak mungkin ditandingi oleh insan lain hari ini.
Daripada beberapa teguran Allah swt kepada Rasulullah saw ini terdapat hikmah di sebaliknya. Kepada pembaca, kutip dan gali hikmah daripada teguran Allah swt kepada Rasulullah saw.

Teguran Allah swt kepada Rasulullah saw
Surah Abasa ayat 1-10
(1) Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (2) Karena Telah datang seorang buta kepadanya (3) Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (4) Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (5) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (6) Maka kamu melayaninya. (7) Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). (8) Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (9) Sedang ia takut kepada (Allah). (10) Maka kamu mengabaikannya.

Surah Abasa ayat 1-10 adalah surah khusus untuk mendidik dan menegur Rasulullah saw tentang perlakuan baginda terhadap seorang sahabat yang cacat perlihatan. Sahabat tersebut adalah Abdullah ibnu Maktum.

Pada satu hari Abdullah Ibnu Maktum yang cacat perlihatannya telah datang kepada Rasulullah dan berkata, “Berikan pertunjuk kepadaku ya Rasulullah”.

Pada waktu itu, Rasulullah saw sedang sibuk untuk berdakwah kepada para pemuka Quraisy yang terdiri daripada Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Umayyah bin Khalaf dan Al Walid bin Mughirah (ayah Saiyidina Khalid bin Al Walid).

Rasulullah saw berpaling kepada Abdullah namun tidak memperdulikan pertanyaan Abdullah Ibnu Maktum kerana kesungguhan baginda ingin memberi dakwah kepada lima pemuka Quraisy tersebut.

Abdullah ibnu Maktum menyedari hal itu lantas bertanya Rasulullah saw, “Adakah ia menggangu tuan?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak”.

Maka, turunlah wahyu ke dalam hati Rasulullah saw saat itu juga bagi memberi peringatan dan teguran Rasulullah berhubung kelakuan baginda terhadap sahabatnya yang bernama Abdullah ibnu Maktum. Selepas saat itu, Rasulullah saw sentiasa mendahulukan Abdullah ibnu Maktum dalam segala hal. Abdullah ibnu Maktum sendiri pernah dilantik menjadi pemangku setelah Rasulullah keluar  berjihad di jalan Allah. Abdullah ibnu Maktum juga dilantik menjadi muazzin selain Bilal bin Rabah. Abdullah ibnu Maktum meninggal dunia setelah syahid di medan peperangan. Moga Allah swt merahmati roh beliau.

Surah al-Tahrim ayat 1
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Ayat ini turun sebagai teguran kepada Rasulullah saw. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah saw pernah mengharamkan dirinya minum madu hanya untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada baginda Rasulullah saw.

Surah at-Taubah ayat 84
“Janganlah sekali-kali kamu menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati dari mereka (keadaan munafik), dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas kuburan mereka. Sesungguhnya mereka telah kafir pada Allah dan utusannya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”
Ayat ini turun ketika Rasulullah saw menyembahyangkan ketua munafik, Abdullah bin Ubai miskipun mendapat halangan daripada Saidina Umar al-Khattab ra. Saidina Umar al-Khattab ra sangat tidak setuju dengan tindakan Rasulullah saw kerana beliau tahu bahawa Abdullah bin Ubai adalah individu munafik dan merosakkan Islam dalam diam. Kerana tidak setujunya Umar ra, beliau telah menarik baju Rasulullah saw untuk menghalangnya melakukan solat jenazah. Akibat tindakan Saidina Umar ra itu, Allah swt menurunkan ayat di atas. Sejak daripada itu, Rasulullah saw tidak pernah hadir untuk menyembahyangkan orang-orang yang dikhabarkan munafik.

Surah at-Taubah ayat 43
Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
Ayat ini turun setelah Rasulullah saw memberi tolak ansur dan toleransi kepada golongan munafik untuk tidak turut serta dalam kempen perang memerangi musuh Islam. Golongan munafik memberi pelbagai alasan kepada Rasulullah saw sehingga baginda akhirnya memberi kelonggaran kepada golongan perosak akidah Islam ini. Lantas, ayat 43 dalam surah at-Taubah ini turun bagi menegur perbuatan baginda. Setelah jelas ayat yang diturunkan, Rasulullah saw tidak pernah bertolak ansur dengan golongan tersebut kemudian harinya.

Surah ali-Imran ayat 128
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka ituatau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.
Imam Bukhari meriwayatkan daripada Humaid bin Tsabit daripada Anas bin Malik ra, beliau berkata,
“Rasulullah saw terluka di kepalanya semasa Perang Uhud, maka baginda bersabda: ‘Bagaimana akan beruntung kepada kaum yang melukai nabi mereka?’ Maka turunlah ayat “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka”.
Dalam satu riwayat lain pula, Imam Ahmad meriwayatkan daripada Anas bin Malik ra bahawa Rasulullah saw pernah patah gigi dan luka berdarah pada wajahnya semasa Perang Uhud, maka baginda bersabda,
“Bagaimana akan beruntung kaum yang berbuat seperti ini kepada Nabi mereka, sedangkan ia(Nabi) mengajak mereka kepada Rabb mereka”
Maka Allah swt menurunkan ayat 128 dalam surah ali-Imran bagi menegur Rasulullah saw,
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka ituatau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Surah al-Anfal ayat 67
“Tidak pantas bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuh-musuhnya di muka bumi. Kau menghendaki harta duniawi sedang Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu), dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”

Ayat 67 surah al-Anfal turun setelah selesaikan Perang Badar yang dimenangi oleh kaum Muslimin. Dalam perang tersebut, kaum muslimin telah menawan lebih kurang 70 pemuka Quraisy. Rasulullah saw telah menawarkan pandapat para sahabatnya tentang untung nasib 70 pemuka Quraisy tersebut.
Maka bangkitlah pendapat daripada Saidina Abu Bakar as-Siddiq ra. Beliau berpendapat supaya dilepaskan sahaja tawanan tersebut. Kemudian, bangkit pula pendapat Saidina Umar al-Khattab. Beliau berpendapat supaya dibunuh sahaja tawanan tersebut. Kedua-dua pendapat daripada dua sahabat besar Rasulullah saw ada benarnya. Pendapat Abu Bakar lebih kepada tolak ansur dan berunsur pendamaian manakala pendapat Umar al-Khattab lebih memikirkan kepada ancaman kaum musyrikin yang bakal bangkit jika dilepaskan bergitu sahaja. Oleh sebab itu, pendapat Umar lebih kepada keselamatan kaum Muslimin di kemudian harinya.
Akan tetapi, Rasulullah saw memilih pendapat Abu Bakar as-Siddiq ra. Setelah itu, turunlah ayat 67 dalam surat al-Anfal. Para jumhul ulama berpendapat, Allah swt lebih menyenangi pendapat Umar al-Khattab.
Maka diketahuilah bahawa, susuk paling unggul seperti Rasulullah saw sendiri juga ditegur oleh Allah swt dalam al-Quran. Namun, kita tidak boleh terkongkong dengan dakwaan bahawa Rasulullah saw ditegur oleh Allah swt menyebabkan ‘hilangnya’ sifat maksum milik baginda. Ia tidak benar sama sekali kerana teguran Allah swt terhadap baginda adalah untuk mendidik baginda dan bukan untuk menjatuhkan martabat kerasulan baginda Rasulullah saw.
Jika dilihat daripada segi logik akal, setiap perbuatan Rasulullah saw ditegur dalam wahyunya. Ia mencakupi hubungan Rasulullah dengan isteri-isteri baginda, sahabat dan musuh-musuh Islam.
Jikalau dihitung dengan jumlah ayat dalam al-Quran, berapa banyak ayat yang menunjukkan baginda ditegur oleh Allah swt? Hanya sedikit sahaja berbanding beribu ayat yang diturunkan oleh Allah swt.
Ini membuktikan Rasulullah saw hanya membuat kesalahan yang sangat kecil yang kemudiannya diperbetulkan pula oleh Allah swt. Yang lebih hebat adalah, kesalahan tersebut adalah normal bagi manusia biasa yang mana dengan kata lain, ia adalah tidak menjadi kesalahan jika manusia tersebut bukan bermaktabat seorang Rasul dan Nabi.
Namun yang pasti, teguran Rasulullah oleh Allah swt menunjukkan semua manusia WAJIB ditegur untuk memperbetul dan mendidik mereka. Kita jangan melenting jika ditegur kerana ingatlah Rasulullah saw juga pernah ditegur malahan sehingga hari ini kita akan membaca kisahnya dalam al-Quran. Siapalah kita ini berbanding Rasulullah saw jika ditegur pun melenting sakan.!

Rabu, 24 Agustus 2011

Detik Detik Wafatnya Rasullullah SAW



Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda
.
“Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah.” Allah berfirman: “Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
.

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la’ la.” Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: “Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.” Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.
Kemudian baginda bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.”

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assolah yarhamukallah.” Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit?” Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: “Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat.” Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?” Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: “Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: “Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka.” Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:
“Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.
Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!”
Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit.” Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: “Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma.” Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia?”Fatimah menjawab: “Tidak wahai baginda.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: “Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah.” Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Saya tinggal ia di langit dunia?” Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah.” Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab: “bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.” Baginda SAW bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.” Baginda SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.
Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?” Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?” Jibril menjawab: “Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.” Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.

Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?” Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga. Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?” Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW. Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: “Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa’ir.”

Sumber : http://www.2lisan.com/artikel/detik-detik-kewafatan-rasullullah/

Kisah perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif.





Thaif adalah sebuah daerah yang terletak hanya 80 km dari Mekah, tetapi mempunyai iklim yang sungguh berbeza dengan Mekah.

Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.

Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.

                        Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish.

Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka.

Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka.

Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar.

                        Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: "Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?"Kata seorang lagi sambil ketawa: "Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?"Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: "Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau."

                        Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan  pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan.

Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatas Baginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif, Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud:

                        " Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah  teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"

                         Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:" Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu."

                        Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:"Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini."

                        Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:"Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya."

                        Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.

Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.

Sumber : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/

Jumat, 19 Agustus 2011

Perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif


Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.
                        Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish. Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka. Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka. Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar.
                        Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: "Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?"Kata seorang lagi sambil ketawa: "Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?"Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: "Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau."
                        Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan  pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan. Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatas Baginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif, Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud:
                        " Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah  teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"
                         Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:" Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu."
                        Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:"Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini."
                        Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:"Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya."
                        Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.

Kesaksian Halimah As Sa’diyah


Sayidah Halimah bercerita bahwa suatu saat ia keluar dari kampung halamannya bersama suami dan putranya yang masih kecil bersama beberapa wanita dari suku bani Sa’ad dalam rangka mencari balita yang hendak di susui oleh mereka. Dan sudah menjadi tradisi orang-orang arab saat itu adalah orang-orang yang tinggal di perkotaan menitipkan anak-anak mereka untuk disusui oleh wanita desa agar lebih cerdas dengan lingkungan pedesaan yang masih asli bahasa dan lingkungannya dengan upah tertentu.
“Saat itu masa paceklik dan kekeringan di kampung halaman kami. Mereka pergi dengan menggunakan keledai betina dan seekor unta yang sama sekali tidak ada susunya hingga di malam kami sulit tidur tangisan anak kami selalu terdengar karena menahan lapar. Bahkan asi yang berada di dada sayapun tak dapat menghilangkan rasa lapar tersebut namun kami tetap berharap pertolongan dan kelapangan yang datang.

Hingga saat aku berjalan terasa lamban sekali dan membuat repot rombongan dari kurus dan lemahnya kami saat itu. Akhirnya kami tiba di mekah dan kamipun mulai mencari balita yang dapat kami bawa pulang ke kampung kami. Tak seorang wanitapun dari rombongan kecuali semua pernah ditawarkan untuk menyusui Rasulullah namun mereka semua menolak beliau saat mengetahui beliau adalah seorang anak yatim. Hal itu tentunya disebabkan karena setiap orang mengharap imbalan dari orang tua balita tersebut. Mereka berkata “Yatim? Nanti apa yang akan diberikan ibu dan kakeknya…” hingga akhirnya setiap wanita dari kami telah mendapatkan balita yang akan disusui dan dibawa pulang kecuali aku sendiri yang belum mendapat balita. Saat untuk kembali pulangpun tiba dan rombongan telah bergegas untuk kembali ke kampung halaman maka akupun berkata kepada suamiku “Demi Allah aku tak ingin kembali pulang bersama teman-temanku sedangkan aku tidak membawa balita. Demi Allah aku akan pergi mengambil anak yatim tadi dan membawanya pulang” suaminya Abdullah bin Al Harits berkata “Baiklah kalau begitu, semoga Allah menjadikannya sumber keberkahan bagi kita”

Maka akupun pergi untuk mengambilnya, padahal pada awalnya aku memilih dia karena tak ada lagi anak yang akan ku bawa pulang. Saat aku ambil dan aku bawa ke tempat persinggahanku dan aku gendong ia tiba-tiba ia langsung menghisap asi dariku dan dengan sangat suburnya asi itu pun keluar dariku sampai ia merasa kenyang dan ajaibnya saudaranyapun (putra kandung beliau) akhirnya dapat meminum asi itu hingga kenyang pula dan mereka berduapun tidur lelap dan kamipun akhirnya dapat tidur setelah sebelumnya sulit untuk tidur. Dalam sebuah riwayat yang lain dinyatakan bahwa saat Rasul ditawarkan untuk minum dari asi yang satu lagi beliau tidak meminumnya seolah mengisyaratkan bahwa itu adalah bagian saudara sesusuannya.

Kemudian suamiku mendatangi unta betina kami dan ternyata ia sekarang dapat mengeluarkan susu hingga akhirnya aku dan dia meminumnya hingga kenyang dan kamipun tidur di malam yang sangat berkesan itu.
Di pagi harinya suamiku berkata “Sadarlah wahai Halimah, sungguh yang kau ambil ini adalah bibit unggul yang diberkahi” kamipun bergegas pulang dan aku membawa Rasul dikeledai bersamaku dan demi Allah perjalanan itu terasa sangat cepat menempuh jarak yang tak bisa ditempuh oleh keledai mereka sampai-sampai kawan-kawanku mengatakan kepadaku “Wahai putri Abi Dzuaib (Halimah) ada apa denganmu, perlambatlah sedikit tunggulah kami, apakah itu keledai yang kemarin kau bawa? Kujawab “Ya demi Allah ini dia” mereka berkata lagi “Demi Allah keledai itu mempunyai kelebihan”

Kamipun tiba diperkampungan kami bani Sa’ad dan setahuku tak ada bumi yang segersang tempat ini saat itu. Domba-dombakupun pergi dan kembali dengan kenyang dan penuh susunya hingga kami dapat memeras susunya padahal di saat yang sama tak ada seorangpun yang dapat memeras kambingnya karena sangat sulit makanan saat itu. Bahkan orang-orang yang memiliki kambing berkata kepada para pengembalanya “Gembalakanlah kambing dengan benar seperti kembalaan halimah” namun tetap saja saat domba kami kembali dengan kenyang, domba mereka tetap lapar dan tidak dapat mengeluarkan setetes susupun”
Kami terus merasakan dan menyadari gelimang keberkahan dan kebaikan itu hingga berlalu 2 tahun iapun tumbuh sangat cepat dan pesat tidak seperti anak-anak umumnya hingga tubuhnya Nampak montok dan gagah dan akupun harus mengembalikannya kepada ibunya padahal kami masih sangat menginginkan bersamanya karena keberkahan yang kami rasakan saat bersamanya. Saat kami hendak menyerahkan ibunya berkata “Bolehkah kalian tahan beberapa lama lagi sampai dia lebih besar, karena aku khawatir penyakit yang mengidap di mekah” maka kamipun membawanya kembali.

Beberapa bulan kemudian saat ia bermain di pekarangan belakang rumah kami bersama saudaranya (putra kandung Halimah) tiba-tiba putraku tersebut mendatangiku sambil ketakutan dan berkata kepadaku dan ayahnya “Saudaraku orang quraisy itu (Rasulullah) ia didatangi 2 orang laki-laki berbaju putih lalu membaringkannya dan membelah perutnya dan menggerak-gerakkannya” aku dan suamikupun keluar untuk mencarinya dan saat kami lihat dia sudah dalam keadaan berdiri dan sangat pucat. Lalu aku dan suamiku memeluknya sambil berkata “Ada apa denganmu wahai anakku?” ia menjawab “Dua orang laki-laki mendatangiku lalu membaringkanku membelah perutku dan mengambil sesuatu dari perutku, aku tidak tahu apa itu?”

Setelah masuk ke dalam rumah suamiku berkata “Wahai Halimah, aku khawatir terjadi sesuatu dengan anak ini, sebaiknya kau kembalikan dia sebelum terjadi hal yang tak diinginkan” maka kami membawanya pulang dan saat kami mengembalikan ibunya berkata “Wahai wanita yang menyusui balita, Kenapa sekarang kau mengembalikannya padaku? Bukankah kau sangat menginginkannya agar selalu bersamamu? Akupun menjawab “Telah kujalankan tugasku dan tiba saatnya aku kembalikan. Akupun khawatir terjadi sesuatu padanya karena itu aku mengembalikannya padamu sekarang” ia berkata lagi “Kamu tidak seperti biasanya, jujurlah padaku ada apa?” akupun menceritakannya. Setelah mendengar kisah itu ia berkata lagi “Apakah kau mengkhawatirkannya dari syetan?” kujawab “ya!” ia berkata lagi “Demi Allah tidak, syetan takkan dapat menguasainya dan putraku ini memiliki kelebihan, maukah kau aku ceritakan tentang dia?” kujawab “Ya!” iapun berkata “Saat aku mengandungnya aku melihat pancaran cahaya yang menerangi hingga nampak istana-istana damaskus di negeri Syam, dan saat aku mengandungnya terasa sangat ringan tak terasa berat sedikitpun dan saat ia lahir ia langsung meletakkan kedua tangannya di bumi sambil mengangkat kepalanya ke arah langit. Baiklah kembalikan ia padaku dan pergilah dengan tenang”
“Beberapa sahabat Rasulullah bertanya kepada beliau”Yaa Rasulallah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu!.” beliau bersabda ”Baiklah, aku adalah buah do’a ayahku (datukku) Ibrohim, dan aku kabar gembira yang di bawa oleh saudaraku ‘Isa putra Maryam. Dan ketika aku di kandungan ibuku (lalu dilahirkan) ibuku melihat sorotan cahaya yang keluar darinya hingga terlihat olehnya istana-istana di negri Syam.
“Dan aku di susui di kalangan keluarga Bani Sa’ad (keluarga Halimah As Sa’diyah) Bin Bakr. Ketika aku bersama saudaraku (sesusuan) sedang mengambala binatang ternak (domba-domba kecil) kami di belakang rumah kami, tiba-tiba 2 orang laki-laki berjubah putih mendatangiku dengan membawa bejana yang terbuat dari emas yang berisi es, lalu mereka membaringkan diriku dan membedah perutku, lalu mereka mencuci hati dan perutku dengan es tersebut hingga bersih, dan berkata yang satu kepada temannya tersebut “Timbanglah, bandingkan dia dengan 10 orang ummatnya.” Lalu mereka menimbangku dengan mereka (10 ummatku) dan aku mengungguli mereka, lalu ia berkata lagi: “Bandingkan dengan 100 ummatnya!” lalu mereka berduapun melakukannya, dan aku masih mengungguli mereka, lalu yang satu tadi berkata “Sudahlah tinggalkan ia, demi Allah walaupun kau bandingkan ia dengan seluruh ummatnya niscaya ia tetap lebih unggul.”[1]

Penulis mengutip sebuah keterangan tentang hikmah di balik pembelahan dada beliau, dari kitab Al Insan Al Kamil karya Prof DR Assayid Muhammad Al Maliky, dalam keterangannya tersebut beliau menyatakan:
Ibnu munir mengatakan: “Dibelahnya dada beliau, dan kesabarannya menghadapi peristiwa itu, serupa dengan ujian Allah kepada Nabi Ismail AS, tatkala perintah Allah datang kepada ayahnya untuk menyembelihnya. Bahkan dibelahnya dada Rasulullah SAW lebih berat lagi, karena hal itu terjadi dengan sebenarnya (Bukan mimpi), dikala beliau masih kecil, sebagai yatim piatu, dan jauh dari keluarganya.”
Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menyatakan salah satu kejadian pembelahan dada beliau. yaitu:

وَمَا أَخْرَجَ الأَمْلاَكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذَى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ


“Malaikat-malaikat itu bukanlah mengeluarkan kotoran dari hati beliau. Namun mereka menambah pada beliau kesucian diatas kesucian yang sudah ada.”
Dan masih banyak lagi komentar ulama tentang hikmah dibalik kejadian tersebut. Bila anda ingin lebih puas lagi tentang peristiwa tersebut dan hikmah di balik pembelahan dada beliau secara tuntas, anda dapat membaca kitab “Al Insan Al Kamil” karya seorang pakar Hadits dan sejarah Rasulullah abad ini, Alm Prof. DR As Sayid Muhammad Bin Alwy Al Maliky -Semoga Allah mencucurkan RahmatNya untuk beliau Amin.

[1] Abdul Malik Bin Hisyam, Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam, Arrisalah, Mesir, 1976, hal 35.
oleh : Muhammad Bin Alwy Alhaddad
Sumber : darul-asrar.blogspot.com