Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Sayyidina Uwais Al Qarni

‎
 
 
*WEJANGAN SPIRITUAL YANG BERHIKMAH* ♫•**•~ Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia? ~•**•♫ ♫•*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• (¯`v´¯)ღ☆ღ♥ بسم الله الرحمن الرحيم ♥ღ☆ღ(¯`v´¯) `•.¸.• ♥♥♥ السّلا م عليکم ورحمةالله وبرکة ♥♥♥♥ •.¸.• Alhamdulillaah….. Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam. Tuhan Yang Maha Rahman. Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah, Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam, Keluarganya, beserta sahabat sahabatnya. ya sohibi,ya sohibah,ya akhi ya ukhti,all ummah muslimin muslimah,how are you to day?, Di PAGI hari jum’at setengan siang yang berbahagia ini teriring do'a dan salam untuk sahabat semua di manapun berada yang senantiasa dalam lindungan Allah, sukses meraih cita, sukses dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari. May Allah blessing our daily,days/days, Aamiin.. ♫•*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• ~* Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia? *~ Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad wa Ashabihil Akhyaar. Rasulullah s.a.w, bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling baik daripada kalangan Tabi‘in ialah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan dengannya ada tanda keputihan (sopak), maka hendaklah kalian meminta kepadanya (Uwais) untuk memintakan ampun bagi kalian semua.” Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Uwais mempunyai seorang ibu yang dia (Uwais) berbuat baik kepadanya, jika dia bersumpah (memohon) kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Oleh karena itu jika engkau berupaya (untuk menemui Uwais) untuk memohonkan ampun bagimu, maka lakukanlah hal itu.” (HR. Muslim) Sayyidina Uwais al Qarni adalah orang yang tidak pernah sekalipun bertemu dengan Rasulullah Saw secara fisik. Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun beliau memendam hasrat kerinduan kepada manusia paling agung itu, namun hasrat hati itu terhalang oleh kondisi harus merawat ibu kandungnya yang telah tua renta. Dalam kurun waktu yang lama, Uwais selalu memikirkan dan mencari cara agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saw. Siang dan malam beliau merenung dan bermunajat dengan penuh pengharapan kepada Allah Azza wa Jalla agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saw, serta agar dapat dikelompokkan kedalam golongan para pengikutnya. Sampai akhirnya doa dan tangisan Uwais dijawab oleh Allah Ta’ala, sehingga Allah memberikan wahyu Nya kepada baginda Rasulullah Saw, mengenai keberadaan orang yang sangat mencintai beliau. Karena itulah kita mengenal sabda Rasul Saww, “Akan datang Nafas Sang Maha Pengasih dari arah Yaman.” Kemudian dengan izin Allah Ta’ala, Rasulullah Saw menemui Uwais dalam alam spiritual, pada pertemuan itu Rasulullah Saw bersabda kepada Uwais, agar jangan meninggalkan ibundanya, sebagai tanda bakti kepada orang tua dan kepatuhan terhadap sunah, dan Rasulullah Saw menyebutkan bahwa Uwais telah termasuk kedalam kelompok pengikut beliau Saw, namun ketika itu Uwais menghendaki hal yang lebih dari itu yakni dia ingin menjadi murid Rasul. Maka Rasulullah Saww akhirnya bersabda bahwa untuk menjadi murid, Uwais harus tetap memelihara rabithah (hubungan batin) dengan Rasulullah Saw itu melalui ketaatan kepada syariat dan sunah serta kecintaan kepada Ahlulbait, bila rabithah itu tetap terjaga, kelak Uwais akan menjadi murid spiritual dan berbai’at kepada penerus beliau Saw yang akan datang mengunjungi Uwais dikemudian hari (Dapat dipahami mungkin inilah dasar dari hadits Rasulullah Saw yang memerintahkan kepada Imam Ali kw dan Sayyidina Umar untuk mengunjungi Uwais al Qarni). Setelah peristiwa itu, Uwais merasakan kebahagiaan yang sangat tak terbendungkan, bahkan kadang-kadang ditengah jalan beliau menyenandungkan syair-syair memuja Rasulullah Saw, dan terkadang masyarakat melihat Uwais (dalam kondisi tafakur) seperti berbicara seorang diri sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan karena kecintaan yang mendalam terhadap diri Baginda Rasul Saww, ketika mendengar bahwa dalam perang Uhud beliau terluka sehingga giginya patah, maka Sayyidina Uwais memukul giginya sampai patah dan berdarah, agar beliau turut merasakan sakit yang dialami oleh Rasul. Maka karena berbagai perilakunya yang dipandang aneh itu, masyarakat menganggap Uwais sebagai orang yang kurang waras atau hilang ingatan. Namun walau bagaimanapun juga beliau tetap memelihara ketaatan kepada syariat dan sunah sebagaimana diwasiatkan oleh Rasulullah Saw. Sampai kemudian tibalah waktunya Imam Ali kw dan Sayyidina Umar mengunjungi Sayyidina Uwais al Qarni. Ketika mereka mencari dan menanyakan kepada masyarakat, tidak seorangpun mengenalnya, hingga disebutkanlah ciri-ciri Uwais al Qarni yang memiliki tanda sopak, barulah masyarakat menunjukkan dan menyebut Sayyidina Uwais sebagai orang aneh dan tidak waras yang selalu menyendiri. Ketika bertemu dengan Imam Ali kw, Sayyidina Uwais al Qarni mencium tangan Imam dan memohon bai’at kepada beliau. Uwais pun berkata, selamat datang wahai maula (Junjungan), wahai penerus Rasul, engkaulah orang yang selama ini aku tunggu dan aku rindukan, engkaulah yang aku harapkan menjadi “Jalan untuk memperoleh doa Rasul.” (Qur’an surah at Taubah ayat 99). Kemudian Imam Ali kw membai’at Sayyidina Uwais al Qarni didalam suluk. Beberapa saat setelah peristiwa itu, Sayyidina Umar bertanya kepada Sayyidina Uwais al Qarni, “Bagaimana mungkin engkau yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saww dapat memperoleh kedekatan dengan beliau, dan memiliki kedudukan khusus disisi Allah Ta’ala?” Mendengar itu, Sayyidina Uwais al Qarni balik bertanya kepada Sayyidina Umar, “Apa yang engkau ketahui tentang Rasulullah Saw?” Kemudian Sayyidina Umar menyebutkan ciri-ciri fisik Rasulullah Saw, Sayyidina Uwais al Qarni menjawab,”Itu hanyalah fisik dari Sayyidina Muhammad Saw, sungguh rugi jika engkau yang selalu bersama Rasulullah Saw hanya mengenal beliau dari sisi itu, sedangkan aku yang berada jauh, mengetahui wujud cahaya beliau Saw yang sempurna.” Semenjak kejadian itu, sayyidina Umar bin Khattab seringkali menyesali dirinya yang tidak maksimal dalam mengambil berkah manfaat dari kehadiran Rasulullah Saw, barangkali karena hal inilah sehingga kita temukan didalam riwayat : “Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Para Wali Allah adalah orang-orang yang paling dicintai Allah, yakni mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam pemberi petunjuk dan para pelita ilmu. Umar pun kemudian menangis mendengar hal itu.” (Hadis riwayat an Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya jilid I hal. 6) •*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• Sahabat Fillah,mari kita simak ceritanya siapa Sayyidina Uwais al Qarni itu,,, ~** Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia??? ~** Sahabat Fillah, Pada zaman Nabi Muhammad Saw, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendang, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqaha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya. Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah saw mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau saw, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menjumpai Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menjumpai Nabi saw di Madinah. Sang ibu, walaupun telah udzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi saw yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah ra sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau saw tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah ra untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi saw langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah saw, sayyidatina ‘Aisyah ra dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah saw bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau saw, memandang kepada sayyidina Ali kw dan sayyidina Umar ra dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi saw wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra telah di estafetkan Khalifah Umar ra. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan sayyidina Ali kw mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar ra dan sayyidina Ali k.w memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan shalat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi saw. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Sayyidina Ali kw memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata : “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”. Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais. “Waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan shalat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Dzat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami, ”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.” “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya. “Ya,” jawab kami. Orang itu pun melaksanakan shalat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar ra. Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit. Subhanallah ♫•*¨*•.¸ﷲ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫•*.¸¸ﷲ•**•♫ Sahabat Fillah Sayyidina Uwais al Qarni tidak memperoleh ilmu dari Rasulullah Saw melalui penglihatan dan pendengaran panca inderanya, namun beliau memperolehnya secara ruhani melalui ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah Saww. Sayyidina Uwais al Qarni membentuk dan memelihara rabithah (Ikatan batin) dengan Rasulullah Saww, karena itulah beliau diangkat kepada kedudukannya yang tinggi. Hikmah dari kisah tersebut diatas menjelaskan bahwa seorang pencari jalan ketika belum menemukan pembimbing yang mampu menuntun untuk menempuh perjalanan spiritual, hendaknya terus menerus memohon kepada Allah dengan tulus, dan dengan disertai ketaatan kepada segala perintah Nya. Apabila seseorang melakukan hal ini, niscaya Allah akan mempertemukannya dengan seorang mursyid haq yang merupakan pewaris dari Rasulullah Saw, sebagaimana Sayyidina Uwais akhirnya dipertemukan dengan Imam Ali kw. ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫ by. ~ Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan : Diambil dari kitab “Irsyad ‘ala Salikin – Bimbingan Bagi Penempuh Jalan Ruhani” ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫•*.¸¸ Maaf, bila ada salah kata dalam penulisan ini, mohon di benarkan, semoga bermanfaat Selamat pagi setengah siang, selamat beraktifitas di hari jum’at yang mubarrakah, .╔Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ ♥♥♥♥ ║║╔═╦╦╦═╗♥ SALAM SANTUN UHIBBUKUM FILLAH ♥ ║╚╣║║║║╩╣.♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ ♥♥♥♥ (✿◠‿◠✿) ╚═╩═╩═╩Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ ♥ღ ♥ ♥KEEP ISTIQOMAH ♥♥♥ .¸.•´¸.•*¨) ❤Praise be to Allah, May Allah Blessing Us, (¸.•´ (¸.•´♥♥ Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin ♥♫♥♫ •*¨*•.¸ﷲ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥:::♥::♥♫•*.¸¸ﷲ•**•♫ Maaf,,, Disilahkan sahabat-sahabat yang ingin copy  Ikhlas, LILLAAHITA’ALA

Jumat, 19 Agustus 2011

Contah taqwa yang ditunjukkan para sahabat


CONTOH TAKWA YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH ABU BAKAR
                        Tidak syak lagi bahawa Abu Bakar r.a.hu merupakan manusia yang paling tinggi mertabatnya dikalangan para sahabat. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukannya yang utama diantara penguni-penghuni syurga  yang maha mulia.
                        Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Nama Abu Bakar akan diseru daripada segenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya."
                        Namun demikian perasaan takutnya kepada Allah s.w.t. tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata: "Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pokok yang ditebang dan dijadikan kayu api" Kadang-kadang dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan."
                        Pada suatu hari dia telah pergi kesebuah taman dimana ia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: "Wahai burung! Sungguh bertuah kamu. Kau makan minum dan bertebangan dibawah naungan pokok-pokok kayu tanpa sebarang perasaan takut tentang hari perkiraan  Aku ingin menjadi seperti engkau,wahai burung."
                        Rabi'ah Aslami r.a.hu telah bercerita:
                        "Pada suatu hari saya telah bertentangan dengan Abu Bakar. Semasa pertengkaran itu berjalan, dia telah mengeluarkan sepatah perkataan kesat terhadap saya. Dengan serta-merta itu juga, dia telah menyedari akan kesalahannya itu lalu berkata: "Wahai saudara, gunakanlah perkataan itu terhadap saya sebagai tindakan balas."
                        Saya enggan berbuat demikian. Dia menggesa-gesakan saya supaya menggunakan perkataan kesat tadi dan berkata hendak merujukkan perkara itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saya tidak juga mahu mengalah. Dia lalu bangun lalu meninggalkan saya. Beberapa orang ahli dari puak saya yang menyaksikan peristiwa tadi mencemuh: "Ganjil betul orangnya, dia yang melakukan kesalahan dan dia pula mengancam hendak mengadu kepada Nabi Muhammad s.a.w.
                        Saya dengan segera menyampuk: " Kamu tahukah siapa dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya bererti menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. dan menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. bererti menyinggung Allah s.w.t., kalau perbuatan aku menyinggung Allah s.w.t., siapakah gerangannya yang akan menyelamatkan aku?"
                        Saya pun bangun lantas pergi menghadap Nabi Muhammad s.a.w. kepada Nabi Muhammad s.a.w. saya bercerita apa yang telah berlaku. Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Keengganan kamu mengeluarkan kata-kata kesat itu sudah kena pada tempatnya, tetapi untuk mengeluarkan penderitaan batinnya, kamu sekurang-kurangnya dapat berkata: "Semoga Allah s.w.t mengampuni kamu wahai Abu Bakar."
                        Begitulah takwa yang telah dipertunjukkan oleh Abu Bakar. Keengganannya menerima pembalasan dialam akhirat menyebabkan dia memaksa Rabiah Aslami supaya mengambil tindakan balas terhadapnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu sedemikian rupa sehingga dia sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan harapan Nabi Muhammad s.a.w. dapat menolong. Bagaimanakah pula perasaan kita, ummat Islam kini selepas melakukan kesalahan yang seperti diatas? Kita seringkali melakukan kesalahan tanpa perasaan takut akan pembalasan sama ada didunia atau pun diakhirat nanti.

CONTOH TAKWA YANG DITUNJUKKAN OLEH UMAR
Umar r.a.hu kerap memegang sehelai jerami sambil berkata: "Alangkah baiknya kalau aku dapat menjadi jerami seperti ini." Kadang-kala dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku tidak dilahirkan oleh ibuku!"
                        Pada suatu ketika Umar sedang sibuk dengan urusan yang penting. Tiba-tiba datang satu hamba Allah dengan satu pengaduan yang berkehendakkan pembetulan. Oleh Umar dicemetinya orang itu dibahagian bahunya. Umar berkata: "Bila aku duduk hendak menerima pengaduan engkau tidak datang tetapi bila aku sibuk dengan urusan penting engkau datang menggangui aku."
                        Tanpa berkata apa-apa orang itu pun meninggalkan Umar. Sejurus kemudian ia dibawa kehadapan Umar sekali lagi. Sambil mengunjukkan cemeti tadi padanya Umar berkata: "Pukullah aku sebagai membalas perbuatan tadi." "Kata orang itu: "Saya mengampuni awak kerana Allah s.w.t."
                        Kekesalan Umar tidak dapat dibayangkan. Dengan cepat dia kembali kerumahnya lalu mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Dia mengkritik dirinya sendiri seperti berikut: "Wahai Umar, dahulu kedudukanmu rendah tetapi kini telah ditinggikan oleh Allah s.w.t.. Dahulu kamu sesat tetapi kini telah dipimpin oleh Allah s.w.t. dan Dia telah memberi kamu kuasa keatas hamba-hambaNya. Apabila salah seorang daripada mereka datang untuk mendapat keadilan ia dipukul dan disakiti. Apakah alasan yang hendak kamu berikan dihadapan Allah s.w.t.?"
                        Soalan ini dihadapkan kepada dirinya bukan sekali malah beberapa kali. Pada suatu malam Umar sedang meronda disuatu tempat dipersekitaran kota Madinah dengan hambanya Aslam. Tiba-tiba kelihatan cahaya api tidak jauh dari tempat mereka berada. Dia berkata: "Nun ditengah-tengah padang pasir nampaknya ada khemah, mungkin kepunyaan suatu khalifah yang tidak dapat memasuki kota kerana kegelapan malam. Mari kita uruskan perlindungan mereka."
                        Setibanya mereka ditempat perkhemahan itu, yang kelihatan hanyalah seorang perempuan dengan beberapa orang anaknya. Si ibu tadi sedang menjerang secerek air, sambil memberi salam dia meminta izin untuk mendekatinya.
Umar: "Mengapa kanak-kanak ini menangis"
Perempuan: Kerana mereka lapar"
Umar: "Apa yang ada didalam cerek itu?"
Perempuan: "Hanya air untuk memperdayakan mereka supaya mereka tidur dengan sangkaan yang makanan sedang disediakan untuk mereka. Ah, Allah s.w.t. akan mengadili pengaduanku terhadap Umar pada hari kiamat nanti kerana membiarkan aku didalam keadaan begini."
Umar:(Menangis)"Semoga Allah s.w.t. mengampuni kamu tetapi bagaimanakah Umar hendak mengetahui tentang penderitaan kamu!"
Perempuan:"Orang yang menjadi Amir patut tahu akan keadaan setiap rakyatnya."
                        Umar balik kekota dan terus ke Baitulmal. Dia mengisikan sebuah karung dengan tepung, buah tamar, minyak dan kain baju. Dia mengeluarkan juga sedikit wang. Apabila karung tadi telah penuh Umar pun berkata kepada Aslam: "Letakkan karung ini keatas belakangku Aslam"
Aslam: "Tidak, tidak, ya Amirul Mu'minin! Biar saya yang memikulnya"
Umar: "Apa! Adakah engkau yang akan memikuli dosaku dihari kiamat kelak? Aku terpaksa memikulinya kerana akulah yang akan dipersoalkan nanti mengenai perempuan ini"
                        Dengan perasaan serba salah Aslam meletakkan karung itu diatas belakang Umar. Dengan diikuti oleh Aslam dia telah berjalan dengan pantas menuju khemah perempuan itu. Dia memasukkan sedikit tepung, buah tamar dan minyak kedalam cerek tadi lalu mengacaunya. Dia sendiri meniup bara untuk menyalakan api. Kata Aslam: "Saya melihat asap mengenai janggutnya"
                        Sebentar kemudian makanan itu pun siaplah. Umar sendiri menghidangkan kepada keluarga miskin itu. Selepas kenyang perut kanak-kanak itu, mereka pun bermainlah dengan gembiranya. Melihat keadaan anak-anaknya, perempuan itu pun berkata:"Semoga Allah s.w.t. memberi ganjaran kepada kamu kerana kebaikan hatimu. Sesungguhnya kamu lebih layak memegang jawatan khalifah daripada Umar." Umar melipurkan hati perempuan itu lalu berkata: " Apabila kamu datang berjumpa dengan  khalifah, kamu akan menjumpai aku disana."
                        Setelah melihat kanak-kanak itu bermain beberapa ketika, Umar pun beredar dari situ. Dalam perjalanan pulang Umar telah bertanya kepada Aslam:"Kamu tahu tak mengapa aku duduk disitu beberapa ketika?"Aku ingin melihat mereka bermain-main dan gelak ketawa kerana kesukaan setelah melihat mereka menangis kelaparan."
                        Mengikut riwayat ketika mengerjakan solat fajar Umar sering membaca SURAH "KAHF, TAHA" dan lain-lain surah yang hampir-hampir sama dengan surah-surah itu. Waktu inilah dia kerap menangis sehingga tangisannya jelas kedengaran beberpa saf kebelakang. Pada suatu subuh ketika membaca ayat SURAH "YUSUF" yang bermaksud:
Hanya aku mengadukan kesusahanku dan kedukacitaanku kepada Allah. 
(SURAH YUSUF-86)
Dia telah menangis teresak-esak sehingga tidak dapat meneruskan pembacaannya.
                        Wahai kaum muslimin, kisah-kisah Umar yang baru saja diceritakan sepatutnya dijadikan bahan rujukan oleh kita bersama. Umar diketahui umum merupakan kesatriaan Islam yang terkenal kerana gagah beraninya. Namanya saja sudah dapat mengecutkan perut pemusuh-pemusuh Islam. Namun demikian dihadapan Allah s.w.t. dia menangis ketakutan. Dimanakah seorang Raja atau Pemimpin negara yang bersedia menunjukkan belas rahimnya kepada seorang hamba rakyatnya yang hina seperti mana yang telah ditunjukkan oleh Umar? Demikianlah kesucian, kemurnian dan ketinggian sopan santun yang dikehendaki oleh Islam, Agama yang kita semua akui sebagai penganut-penganutnya.

PERPINDAHAN KE HABSHAH DAN PEMULAUAN DILEMBAH IBNU ABI TALIB


Kesusahan dan penderitaan yang ditanggung oleh kaum Muslimin semakin bertambah-tambah. Baginda s.a.w akhirnya membenarkan mereka meninggalkan Mekah. Negeri Habshah pada masa itu diperintahkan oleh seorang raja Kristian (kemudiannya telah memeluk Islam) yang masyhur dengan belas-rahim dan keadilannya. Dalam bulan Rejab, selepas selepas lima tahun Nabi Muhammad s.a.w. menjalankan dakwahnya, kumpulan orang-orang pelarian yang pertama telah berlepas ke Habshah. Kumpulan ini terdiri daripada lima belas orang lelaki dan lima orang perempuan. Puak Quraish yang mengejar mereka tiba dipelabuhan selepas kapal mereka bertolak. Setibanya mereka diHabshah , mereka mendengar khabar angin yang mengatakan bahawa kesemua puak Quraish telah beriman dan menerima ajaran Islam. Kegembiraan mereka bukan kepalang. Mereka pun memutuskan hendak kembali ketanah air mereka, tetapi apabila hampir-hampir tiba keMekah mereka dapati yang berita angin yang mereka dengar semasa diHabshah tidak benar sama sekali. Kempen mengganggu orang-orang Islam tidak sedikit pun berkurangan. Oleh hal yang demikian setengah daripada mereka terpaksa belayar kembali keHabshah sedangkan yang lainnya memasuki kota Mekah dengan perlindungan orang-orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenali dengan 'PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG PERTAMA'. Tidak lama kemudian satu rombongan yang lebih besar terdiri daripada lapan puluh orang lelaki dan lapan belas perempuan telah berlepas keHabshah. Pemergian yang kedua ini disebut sebagai 'PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG KEDUA'. Ahli-ahli rombongan yang kedua ini termasuk juga sebilangan kecil para sahabat Nabi Muhammad s.a.w.
                        Pemergian orang-orang Islam keHabshah menimbulkan kemarahan kafir-kafir Quraish. Suatu rombongan puak Quraish lengkap dengan hadiah-hadiah yang akan diberi kepada Raja Habshah, pembesar-pembesar istananya dan paderi-paderi Kristian telah berlepas kesana. Setelah pembesar-pembesar istana disogok mereka dengan senang masuk keistana penghadapan untuk menemui Raja. Mereka disujudkan dihadapan Raja sambil meletakkan hadiah-hadiah didepannya.
                        Mereka pun berbicara: "Tuanku, sebilangan kecil orang-orang kami telah meninggalkan agama mereka yang turun termurun dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama kami dengan agama kamu. Merka telah datang untuk tinggal disini. Pembesar-pembesar Mekah, ibu bapa dan kaum kerabat mereka telah menghantar kami untuk membewa mereka balik. Kami memohon Tuanku supaya mereka diserahkan kepada kami."
                        Jawab Raja Habshah:" Kami tidak dapat menyerah orang yang telah diminta perlindungan kami tanpa usul periksa. Biarlah mereka dibawa kehadapan kami supaya dapat kami mengkaji hujah-hujah mereka. Kalau tuduhan kemurtadan yang telah kamu melemparkan terdapat mereka itu benar kami akan serahkan mereka kepada kamu."
                        Oleh Raja Habshah disuruhnya pegawai-pegawainya membawa orang Islam kebalai penghadapan.Orang-orang Islam itu berasa gelisah kerana tidak tahu apa yang mesti diperbuat tetapi Allah s.w.t. telah memberikan peransang. Sebaik-baik sahaja mereka sampai sampai dihadapan Raja mereka menyampaikan salam kepadanya. Seorang pegawai istana telah membantah mengatakan yang mereka tidak bersujud dihadapan raja. Mengikut adat kebiasaan orang-orang Habshi mereka menerangkan:"Nabi kami telah melangkan kami supaya bersujud kepada sesiapa melainkan Allah s.w.t."
                        Kemudian Raja Habshah telah menyuruh mereka membentangkan hujah-hujah mereka sebagai mempertahankan diri dari pertuduhan puak Quraish. Jaafar r.a.hu bangun lalu berucap:"Tuanku! Kami ini manusia yang jahil. Kami tidak mengenal Allah s.w.t. dan Pesuruh-pesuruhNya.Kami menyembah batu-batu, memakan bangkai serta mengerjakan segala jenis kejahatan.Kami tidak menunaikan kewajipan kami terhadfap kaum kerabat kami. Yang kuat diantara kami akan menindas yang lemah. Akhirnya bangunlah seorang Nabi yang membawa pembaharuan didalam penghidupan kami. Keturunan yang mulia,  perangainya yang lurus dan kehidupannya yang suci bersih diketahui umum.Dia menyeru kami supaya kami menyembah Allah s.w.t. dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik.Dia mengajar kami melakukan perbuatan yang Ma'ruf dan meninggalkan yang Mungkar. Dia mengajarkan kami supaya bercakap benar, menunaikan amanah, menghormati kaum-kaum kerabat dan berbuat baik dengan jiran tetangga. Daripadanya kami belajar sembahyang, berpuasa, berzakat dan berkelakuan baik. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan-perbuatan jahat dan pertumpahan darah. Dia melarang perzinaan, perbuatan-perbuatan lucah, bercakap bohong, memakan harta-harta anak yatim dengan secara haram, mengada-adakan fitnah dan sebagainya. Dia mengajar kami Quran dan Kitabullah yang mengkagumkan. Jadi kami percayakan kepadanya, kami mengikuti jejak langkahnya dan menerima ajaran yang dibawanya.Oleh kerana inilah maka kami telah menggangui dan disiksa dengan harapan kami akan kembali kepada keadaan sediakala.Apabila kejaman orang-orang kami melampui batas-batas perikemanusiaan, kami pun dengan doa restu Nabi kami telah datang kemari untuk berlindung ditempat Tuanku."
                        Kata Raja Habshab:"Perdengarkan sedikit kuma Quran yang telah kamu pelajari daripida Nabi kamu." Jaafar pun membacalah ayat-ayat pada permulaan 'Surah Mariam'. Ayat-ayat yang dibaca begitu mengharukan hati nurani para pendengar sehingga pipi mereka dibasahi air mata."Demi Allah!" kata Raji Habshah."Perkatan-perkataan ini dari perkataan-perkataan yang diturunkan kepada Musa merupakan cahaya dari suatu sumber sinaran yang sama."
                        Menoleh kepada perwakilan puak Quraish, Dia berkata yang dia enggan menyerahkan orang-orang pelarian itu kepada mereka.Sungguhpun orang-orang Quraish telah berasa malu dan hampa namun mereka tidak mahu mengaku kalah. Mereka mengadakan mesyuarat dimasa salah seorang daripada mereka telah berkata,:"Aku ada satu rancangan yang sudah tentu akan menimbulkan kemarahan baginda terhadap mereka."Rancangan ini tidak dipersetujui oleh rombongan-rombongan Quraish yang lain. Mereka berpendapat bahawa jiwa orang-orang Islam akan terancam jika ianya berhasil. Mereka tidak ingin membahayakan orang yang sedarah sedaging dengan mereka. Tetapi orang mencadangkan itu tiddak mahu membatalkannya. Pada esoknya, dipengaruhi pleh orang lain, perwakilan Quraish telah menghasut Raja Habshah dengan menatakan yang orang perlarian Islam tidak percaya yang Nabi Musa itu anak Allah s.w.t. Sekali lagi orang-orang Islam dibawa menghadap raja. Meraka gementar kerana ketakutan apabila ditanya mengenai pendirian mereka tentang Nabi Musa a.s mereka dengan tegas menjawab: "Kami percaya kepada kata-kata Allah yang telah diturunkan kepada Nabi kami mengenai Isa iaitu dia hanya seorang hamba dan Pesuruh Allah Kami juga percaya dengan kata-kata Allah s.w.t. yang telah disampaikanNya kepada Maryam"
                        Negus (Raja Habshah) berkata:"Demikian juga dakwah Isa mengenai dirinya."Paderi-paderi yang mendengar kata-kata Negus bersungut-sunut sebagai membantah tetapi dia tidak menghiraukan mereka. Dia mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh perwakilan Quraish. Berpaling kepada pelarian-pelarian Islam, dia berkata:"Pergilah hidup dengan aman. Orang-orang yang menganiayai kamu akan menerima hukuman yang berat."Satu pengistiharan diraja telah dirasmikan mengenai perkara ini. Rombongan Quraish telah balik dengan perasaan sedih dan memalukan.
                        Kegagalan perwakilan Quraish dan kemenangan orang-orang Islam telah menyebabkan  pihak mushrikin Mekah bertambah berang..Api merahan mereka telah bersemarak lagi apabila Umar telah memeluk agama Islam. Akibat kemarahan yang berleluasa ini, suatu persidangan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka puak Quraish telah diadakan. Tujuan utama mesyuarat ini ialah hendak merancang pembunuhan  Baginda s.a.w. Mereka hendak mengatasi masalah Nabi Muhammad s.a.w. dengan sekali gus tetapi pembunuhan ini bukan satu perkara yang senang diselenggarakan. Banu Hashim, puak Nabi Muhammad s.a.w. sangat banyak bilangan ahli-ahlinya dan sangat kuat pengaruhnya dikalangan bangsa Quraish. Sungguhpun  banyak diantara mereka tidak menganuti agama Islam mereka sudah tentu tak akan berdiam diri kalau salah seorang daripada mereka dibunuh. Oleh hal yang demikian pemuka-pemuka Quraish telah memutuskan hendak menjalankan pemulauan sosial keatas Banu Hashim. Mereka telah menyusun satu dokumen dalam mana dinyatakan puak-puak Quraish lainnya tidak akan bergaul dan berjual-beli dengan puak Banu Hashim selagi mereka tidak menyerahkan Nabi Muhammad s.a.w.untuk dibunuh. Dokumen yang ditandatangi oleh pemuka-pemuka Quraish itu digantung di Kaabah. Pemulauan itu berjalan dan berkuatkauasa selama tiga tahun dan selama itu pula Nabi Muhammad s.a.w. dan puak Banu Hashim terkepung didalam satu lembah diluar Kota Mekah. Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak boleh berjual-beli dengan puak-puak Quraish yang lain hatta dengan pedagang-pedagang asing sekalipun. Mereka yang melewati batas 'penjara' mereka ataupun yang cuba membeli barang-barang makanan dipukul dengan sekejam-kejamnya. Pemulauan ini sudah tentu mengakubatkan puak Bani Hashim menghadapi kebuluran. Mujur juga ada sedikit makanan yang telah diseludup oleh lelaki puak Quraish yang lain yang telah berkahwin dengan wanita-wanita Banu Hashim. Penderitaan yang dialami oleh mereka tidak dapat dibayangkan. Walau bagaimanapun Nabi Muhammad s.a.w dan para sahabatnya tetap teguh dengan keimanan mereka dan dalam keadaan yang tidak menyenangkan ini sempat juga mereka menyaampaikan ajaran Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.
                        Akhirnya selepas tiga tahun dengan khudrat dan iradat Allah s.w.t. dokumen yang digantung diKaabah telah hancur dimakan oleh anai-anai dan pemulauan yang dikenakan keatas Banu Hashim dengan sendirinya terbatal.
                        Demikianlah dengan serba ringkasnya gambaran penderitaan yang telah dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya. Kita yang mendakwa kita sebagai pengikut-pengikut mereka patut bertanya kepada diri kita sendiri menegenai usaha-usaha yang telah kita jalankan untuk menegakkan Syariat-syariat Islam. Apakah pengorbanan yang telah kita lakukan dijalan Allah s.w.t.? Kita ingin majukan duniawi dan nikmat hidup ukhrawi tetapi kita lupa yang ini semua tidak mungkin diperolehi tanpa pengorbanan dijalan Allah s.w.t.

Islamnya Sohaib & Umar


ISLAMNYA SOHAIB
                        Sohaib dan Ammar memeluk Islam pada waktu yang sama. Pada masa itu Nabi Muhammad s.a.w. tinggal ditempat kediaman Arqam. Mereka datang secara berasingan untuk memeluk agama Islam dan telah bertemu dipintu rumah  Arqam. Sohaib seperti Ammar telah menderita akibat penyiksaan yang diterima ditangan pemusuh-pemusuh Islam. Akhirnya dia memutuskan hendak berhijrah ke Madinah.Kafir-kafir Quraish tidak mahu dia berbuat demikian lantas menghantar suatu gerombolan untuk memaksanya balik ke Mekah.Sebaik-baik sahaja kafir-kafir musyrikin itu mendekatinya, dia memekik kepada mereka:"Kamu semua tahu yang aku ini pemanah yang lebih handal daripada kamu. Selagi ada anak panah pada ku selama itulah kamu tidak dapat menghampiri aku. Apabila habis anak panah ku aku akan menggunakan pedang aku pula. Kalau kamu suka pergilah ambil wangku yang kutinggalkan di Mekah dan dua orang sahaya perempuanku sebagai penebusan diriku."
                        Mereka bersetuju. Dia pun memberitahu tempat dimana wangnya disimpan. Selepas itu dia meneruskan perjalanannya ke Madinah. Berkenaan dengan perbuatan Sohaib ini Allah s.w.t. telah menurunkan ayat yang berikut kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:
"Dan dari antara manusia ada yang menjual dirinya kerana hendak mencari keridhaan Allah dan Allah itu amat penyayang kepada hamba-hambaNya."
                        Pada ketika menerima ayat ini Nabi Muhammad s.a.w.. berada di Qubo. Apabila dilihatnya Sohaib, Baginda s.a.w. pun berkata: "Penjualan yang baik sungguh, Sohaib."

ISLAMNYA UMAR
                        Umar r.a.hu selepas ia memeluk agama Islam, menjadi kebanggaan orang-orang Islam dan musuh ketat kafir-kafir musyrikin tetapi sebelum itu dia menentang Nabi Muhammad s.a.w. dan mengganggu orang-orang yang menganuti Islam. Dalam suatu mesyuarat orang-orang Quraish, pada suatu hari mereka telah memutuskan hendak meminta salah seorang daripada mereka supaya membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
                        Umar telah tampil kehadapan sebagai sukarelawan yang ingin mengusahakan pembunuhan itu. Tiap-tiap Quraish yang menghadiri mesyuarat itu berkata serentak"Ya, engkaulah yang dapat melakukannya,Umar!"
                        Dengan pedang yang bergantungan dilehernya, Umar pun mengarahkan langkah menuju ketempat kediamanNabi Muhammad s.a.w. Dalam perjalanannya ia telah menemui Saad bin Abi Waqqas. Saad berkata: "Kemana kau, Umar?"Umar menjawab: "Aku hendak pergi menamatkan riwayat hidup Nabi Muhammad " Saad: "Kalau begitu Banu Hashim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf akan membunuh kamu sebagai tindakan balas."Umar(gelisah dengan amaran itu) berkata: "Nampaknya kau juga telah meninggalkan agama nenek moyang kau. Biar aku kerjakan kau dahulu."
                        Umar dengan serta merta menghunus pedangnya. Sambil mengistiharkan pengislamannya Saad juga berbuat demikian. Sebelum bertarung dengan Umar  sempat juga berkata:"Lebih baik kau menguruskan rumahtangga kau dahulu. Saudara perempuan kau dan iparkau, kedua-duanya telah memeluk agama Islam"
                        Kemarahan Umar ketika mendapat cerita itu tak dapat diceritakan lagi. meninggalkan Saad, dia menggerakkan langkahnya kearah rumah saudara perempuannya. Setibanya dirumah itu dia dapati rumah itu telah berkunci dari dalam. Sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dia menjerit dengan sekuat tenaga kepada saudaranya supaya pintu itu dibuka. Mendengar suara Umar, Khabbab telah lari bersembunyi meninggalkan masyaf-masyaf Quran yang sedang mereka baca. Apabila pintu dibuka Umar dengan cepat menempeleng saudaranya sambil berkata:"Hai pengkhianat dirimu sendiri, engkau juga telah meninggalkan agamamu."
                        Tanpa menghiraukan kepala saudaranya yang berdarah, dia masuk kedalam sambil bertanya: "Apakah kelian sedang buat tadi dan siapa dia orang yang suaranya aku dengar dari luar?" Iparnya menjawab:"Kami hanya berbual-bual." Umar bertanya kepada iparnya "Adakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyang kamu dan memeluk agama baru?" Ipar Umar menjawab:" Bagaimana pula agama baru itu lebih baik dari agama kita yang lama itu?" Jawapan itu menyebabkan Umar memukul dengan kejam  dan menarik-narik janggutnya. Saudaranya yang datang hendak melerai mereka juga dipukul sehingga mukanya berlumuran dengan darah. Sambil menangis saudara  perempuannya berkata:"Umar! kami dipukul hanya kerana kami memeluk agama Islam. Kami berazam hendak mati sebagai orang-orang Islam Kau bebas melakukan apa saja yang kau suka atas diri kami."
                        Apabila hatinya sejuk sedikit dia berasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia terpandang akan masyaf-masyaf yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi. Katanya:"Baiklah, tunjukkan masyaf-masyaf ini." "Tidak," kata saudaranya.: "Badan kau tak bersih dan orang yang tak bersih tak seharusnya memegang  masyaf-masyaf ini." Umar akhirnya membersihkan badannya dan mula membca masyaf-masyaf tadi. Surah yang dibacanya ialah SURAH TAHA.Dia membaca dari permulaan surah itu.Seluruh sikap dan pandangannya berubah apabila  ia sampai ke ayat yang bermaksud:
"Akulah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu sembahlah Aku dan dirikanlah sembahyang buat mengingati Aku."
Kata Umar: "Baiklah, bawa aku bertemu dengan Muhammad "
                        Mendengar kata-kata Umar itu Khabbab pun keluarlah dari tempat persembunyiannya sambil berkata:"Ya Umar, ada berita baik untuk kamu. semalam (iaitu malam Juma'at)Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa kepada Allah s.w.t..: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa yang Engkau suka.".Nampaknya Allah s.w.t. telah memilih engkau sebagai menunaikan permintaan Nabi Muhammad s.a.w.
                        Umar telah menemui Nabi Muhammad s.a.w. dan pada pagi Juma'at dia telah memeluk agama Islam Pengislaman Umar merupakan merupakan suatu pukulan yang hebat kepada puak musyrikin. Sungguh pun begitu bilangan orang Islam terlalu kecil kalau dibandingkan dengan bilangan puak musuh. Kafir-kafir musyrikin telah memperhebatkan usaha-usaha mereka untuk menghapuskan orang-orang Islam serta agama mereka. Dengan Islamnya Umar, kaum Muslimin telah bertambah berani dan sekarang mereka mendirikan sembahyang di Baitul Haram. Kata Abdullah bin Masud: "Pengislaman Umar merupakan suatu kejayaan besar kepada kaum Muslimin, perpindahannya menguatkan kami dan perlantikannya sebagai Khalifah merupakan suatu keberkatan kepada kami.:"

AMMAR DAN IBU BAPAKNYA


Ammar dan kedua-dua orang tuanya termasuk dalam golongan kaum Muslimin yang disaksikan oleh pemusuh-pemusuh Islam kerana menerima ajaran Nabi Muhammad s.a.w. Mereka telah diazabkan diatas batu-batu dan tanah yang panas membakar. Apabila Rasullullah s.a.w. lalu berdekatan mereka Nabi Muhammad s.a.w. akan menggesa mereka supaya bersabar sambil memberi khabar gembira mengenai syurga. Yasir, ayah kepada Ammar telah meninggal dunia setelah menerima penyiksaan yang berpanjangan. Ibunya yang telah tua pula ditikam mati dengan dengan lembing oleh Abu Jahal. Dia enggan meninggalkan agamanya walaupun disiksa dengan pedihnya. Dia merupakan wanita pertama yang sahid kerana mempertahankan agama.
                         
Apabila Nabi Muhammad s.a.w. hendak berhijrah ke Madinah, Ammar telah menawarkan hendak membuat sebuah binaan dimana Nabi Muhammad s.a.w. boleh duduk, berehat diwaktu petang dan mengerjakan solat. Binaan ini didirikan dengan batu-batu yang dipungutkan oleh dirinya sendiri. Dia menentang musuh-musuh Islam dengan penuh keghairahan dan keberanian. Dalam suatu pertempuran dia telah berkata dengan gembiranya: "Aku akan menemui kawan-kawan aku tak lama lagi. Aku akan berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya."
                        
Kemudian ia meminta air untuk diminum tetapi dia diberi susu. Sambil mengambil susu itu dia berkata: "Aku mendengar Nabi Muhammad s.a.w.. berkata padaku:"susu inilah minuman kau yang terakhir didunia!"
                        
Dia bangun lalu meneruskan perjuangannya menentang musuh sehingga ia gugur. Pada masa itu dia berusia sembilan puluh empat tahun.

PENDERITAAN KHABBAB BIN ALARAT


Khabbab ialah seorang manusia yang telah banyak berkorban kerana agama yang telah dianutinya. Dia awal-awal lagi telah memeluk agama Islam dan oleh yang demikian penderitaan yang ditanggungnya pun agak lama juga. Dia telah dipaksakan memakai baju besi dan disuruh berbaring dipasir, mendedahkan badannya pada panas matahari yang terik hingga kulitnye mengelupas. Khabbab adalah seorang hamba abdi kepada seorang perempuan. Apabila diketahui oleh si perempuan tadi yang dia sering melawat Nabi Muhammad s.a.w kepalanya diselar dengan panas yang merah membara.
                        
Umar r.a.hu semasa beliau  menjadi Khalifah telah bertanya kepaha Khabbab tentang penderitaannya dikala mula-mula menganuti agama Islam dahulu. Sebagai menjawab dia menunjukkan parut-parut luka dibelakang badannya. Kata Umar,"Aku tidak pernah melihat belakang badan yang sedimikian rupa." Melanjutkan ceritanya dia mengatakan yang dia telah diheret diatas suatu timbunan bara api sehingga lemak-lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara-bara api itu. Apabila agama Islam telah merebak ke merata-rata tempat, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata:"Nampaknya Allah s.w.t. sedang memberi ganjaran bagi segala penderitaan yang kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran yang bakal kita terima."
                        
Khabbab bercerita:
"Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengimami kami dalam sembahyang. Rasulullah s.a.w telah memanjangkan suatu rakaat. Diakhir sembahyang itu kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah s.a.wmenjawab:"Saya telah membuat tiga permintaan kepada Allah s.w.t.. Saya berdoa:"Ya Allah, janganlah hendaknya ummatku mati kerana kebuluran, janganlah hendaknya ummatku dihapuskan oleh musuh dan janganlah hendaknya mereka berkelahi sesama mereka"."Allah s.w.t.. telah menunaikan hanya dua permintaanku yang pertama." 
                        
Khabbab telah meninggal dunia apabila usianya meningkat tiga puluh tujuh tahun. Dia merupakan sahabat yang pertama sekali dikebumikan di Kufah. Pada suatu ketika apabila Ali r.a.hu melalui pusaranya beliau pun berkata:"Moga-moga Allah s.w.t. memberkhati dan melimpahkan rahmatNya keatas Khabbab. Dia telah memeluki Islam dengan segala senang hati dan telah menumpukan segala tenaganya semasa ia hidup untuk berusaha dijalan Allah, walaupun dengan berbuat demikian dia menderita kesusahan. Berbahagialah orang yang sentiasa mengingati hari Kiamat, yang sentiasa bersiap sedia untuk menghadapi perhitungan diAkhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup berdikit-dikit didunia ini dan yang perbuatannya mendatangkan keridhaan tuhan."
                         
Keridhaan Allah s.w.t.lah yang menjadi matlamat tunggal perjuangan hidup para sahabat semuanya. Semoga kita semua juga akan mendapat keridhaan Allah s.w.t.

ISLAMNYA ABUZAR GHIFARI



Abuzar Ghifari merupakan seorang sahabat c yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya.Kata Ali r.a.hu.: "Abuzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tak dapat diperolehi oleh orang lain"
                        
Apabila ia mula-mula mendengar khabar tentang kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., dia telah menghantar saudara laki-lakinya untuk menyiasat dengan lebih mendalam mengenai orang yang mendakwa menerima berita dari langit.Setelah puas menyiasat, saudaranya pun melapurkan kepada Abuzar yang Nabi Muhammad s.a.w. itu seorang yang bersopan-santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibaca kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lapuran yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataaan. Setibanya di Mekah, dia terus ke Baitul Haram. Pada masa itu dia tidak kenalNabi Muhammad s.a.w. dan memandangkan keadaaan pada masa itu dia berasa takut hendak bertanya darihal Nabi Muhammad s.a.w.Apabila menjelang waktu malam, dia dilihat oleh Ali r.a.hu. Oleh kerana dia seorang musafir Ali r.a.hu terpaksa membawa Abuzar kerumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tetamu. Ali r.a.hu tidak bertanya sesuatu apa pun dan Abuzar bagi pihak dirinya pun tidak memberitahukan Alitentang maksud kedatangannya ke Mekah. Pada keesokan harinya Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi Muhammad s.a.w. kerana pada masa itu orang-orang ISLAM sedang diganggu hebat oleh kafir-kafir musrikin. Bagi malam yang keduanya Ali r.a.hu membawa Abuzar kerumahnya. Pada malam yang kedua ini pun Ali r.a.hu tidak bertanya hal Abuzar, tetapi pada malam ketiga Ali r.a.hu bertanya:"Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"
Sebelum menjawab, Abuzar meminta Ali r.a.hu berjanji supaya bercakap benar. Kemudian ia pun bertanya kepada Ali r.a.hu tentang Nabi Muhammad s.a.w. Ali r.a.hu berkata sebagai menjawab soalan Abuzar:"Dia sesungguhnya PESURUH ALLAH. Esok engkau ikut saja aku dan aku akan membawa kamu menjumpainya. Tetapi awas bencana yang buruk akan menimpai kamu kalau perhubungan kita ditahui orang. Semasa berjalan esok kalau aku dapati bahaya mengancam kita aku akan berpisah agak jauh sedikit daripada kamu dan berpura-pura membetulkan kasutku, tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak mensyaki perhubungan kita."
                         
Pada esoknya itu Ali r.a.hu pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. Tanpa banyak soal-jawab, dia telah memeluk agama ISLAM. O;eh kerana takut kalau-kalau dia diapa-apakan oleh pihak musuh, Nabi Muhammad s.a.w. pun menasihatinya supaya lekas balik dan supaya jangan mengistiharkan pengislaman di khalayak ramai, tetapi Abuzar dengan berani menjawab:"Ya Rasulullah, aku bersumpah dengan Allah yang jiwaku ditanganNya bahawa aku akan mengucap KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir musyirikin itu."
                         
Janjinya pada Nabi Muhammad s.a.w. ditepatinya. Selepas ia meninggalkan Bagimda dia mengarahkan langkahnya ke Baitul Haram dimana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara yang lantang dia telah mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAH
"AKU MENYAKSIKAN YANG TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN AKU MENYAKSIKAN YANG MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH."
                         
Apatah lagi, demi didengarinya ucapan Abuzar itu, orang-oarang kafir pun menyerbuinya lalu memukulnya. Kalau tidaklah kerana Abbas, (ayah saudara Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu belum memeluk agama ISLAM ) Abuzar sudah tentu menemui ajalnya.Kata Abbas kepada kafir-kafir musyirikin yang menyerang Abuzar:"Tahukah kamu siapa orang ini? Dia ialah dari puak Ghifar. Khalifah-khalifah kita yang berulang alik ke Sham terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, mereka sudah tentu akan menghalang perniagaan kita dengan Sham."
                         
Pada hari yang berikutnya Abuzar sekali lagi mengucap DUA KALIMAT SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Quraish dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.Keghairahan Abuzar mengucap DUA KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Khuraish sungguh-sungguh luar biasa kalau dikaji dalam kontek larangan Nabi Muhammad s.a.w. kepadanya. Apakah dia boleh dituduh sebagai telah mengingkari perintah Nabi Muhammad s.a.w.
Jawabnya-TIDAK. Dia tahu yang Nabi Muhammad s.a.w. sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya kearah menyibarkan agama Islam. Dia hanya hendak mencontohi Nabi Muhammad s.a.w. walaupun dia mengetahui dengan berbuat demikian dia mendedahkan dirinya kepada bahaya. Semangat keislaman yang sebeginilah yang telah membolehkan para sahabat mencapai puncak kejayaan dalam alam lahiriah serta batiniah. Keberanian Abuzar ini sudah selayaknya dicontohi oleh umat Islam dewasa ini didalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiah. Kekejaman, penganiayaan serta penindasan tidak semestinya melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan Dua Khalimah Syahadah.

BILAL DAN PENDERITAANNYA


Bilal r.a.hu adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling terkenal. Dia merupakan muazzin atau juru azan di Masjid Nabi. Dia merupakan seorang hamba Habshi yang dimiliki oleh seorang kafir di Mekah. Pengislamannya telah menimbulkan kemarahan yang tidak keruan didalam hati pemiliknya. Dia pun diazabkan tanpa perikemanusiaan. Umayyah bin Khalaf, pemusuh ISLAM yang terkemuka yang memiliki Bilal akan membaringkannya atas pasir yang panas membakar serta meletakkan batu besar diatas dadanya sehingga ia tidak dapat menggerakkan tulangnya yang lapan kerat. Kemudian berkatalah Umayyah kepada Bilal:"Tinggalkanlah agamamu. Kalau tidak matilah kamu dalam kepanasan matahari yang tegak."
Bilal menjawab dengan berkata:"Ahad"-(Tuhan Yang Esa)-"Ahad-(Tuhan Yang Esa)."
                         
Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.
                        Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: "Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?"
                        
Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.

PERDAMAIAN HUDAIBIYAH DAN KISAH ABU JANDAL DAN ABU BASIR


Pada tahun Hijrah yang ke enam, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah bertolak keMekah untuk mengerjakan Umrah. Berita mengenai Baginda s.a.w. telah sampai kepengetahuan puak Khuraish, mereka pun bersiap sedia untuk menghalang kemasukan Nabi Muhammad s.a.w Sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w yang berjumlah 1400 orang semuanya dengan semangat keislaman yang berkobar-kobar berazam hendak merempuh masuk keMekah walaupun perbuatan ini akan melibatkan pertempuran secara terbuka tetapi Nabi Muhammad s.a.w. tidak bersependapat dengan mereka. Selepas berfikir sedalam-dalamnya, Baginda s.a.w. memutuskan hendak membuat perjanjian dengan pihak Khuraish serta menerima syarat-syarat yang dikenakan oleh mereka seluruhnya.
                         
Perjanjian yang berat sebelah ini menghampakan perasaan sabahat-sahabat Baginda s.a.w. tetapi kepatuhan dan taat setia mereka kepada Baginda s.a.w. tidak membenarkan mereka menyuarakan bantahan mereka terhadap perjanjian yang tidak adil ini. Pahlawan Islam yang seberani-beraninya seperti Umar pun terpaksa tunduk kepada keputusan yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w Mengikut salah satu daripada syarat-syarat perjanjian ini orang-orang Khuraish yang menyerah diri kepada pihak orang Muslimin mesti dikembalikan kepada Khuraish sedangkan orang-orang Islam yang menyerah diri kepada pihak Khuraish tidak akan dikembalikan kepada kaum Muslimin.
                         
Abu Jandal, seorang pemeluk agama Islam sedang menerima penyiksaan yang dahsyat ditangan Khuraish. Apabila ia mendengar yang Nabi Muhammad s.a.w sedang berkhemah diHudaibiah, dia pun melepaskan dirinya lalu lari ketempat perkhemahan Nabi Muhammad s.a.w pada masa Perdamaian Hudaibiah hendak ditantangai. Ayah Abu Jandal,Suhail, yang ketika itu belum lagi memeluk Islam menjadi jurucakap bagi pihak Khuraish dalam perundingan mereka dengan Nabi Muhammad s.a.w untuk merangka butir-butir Perdamaian Hudaibiah. Dia menempeleng anaknya Abu Jandal serta memaksanya balik keMekah. Oleh kerana peristiwa ini berlaku ketika Perdamaian Hudaibiah belum berkuatkuasa lagi, Nabi Muhammad s.a.w berpendapat yang perkara perlarian Abu Jandal kepihak Muslimin tidak tertakluk dibawah perjanjian itu, tetapi ayah Abu Jandal menolak hujah-hujah yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad s.a.w
                         
Penderitaan Abu Jandal ini menyayatkan hati para sahabat, tetapi apakan daya oleh kerana inginkan perdamaian Nabi Muhammad s.a.w terpaksa menyerahkannya kembali kepada pihak Khuraish sambil menyampaikan kata-kata penawar yang berikut:"Janganlah hendaknya kamu bermuram durja, wahai Abu Jandal. Allah s.w.t. sudah tentu akan membuka jalan buat kamu."
                         
Selepas Perdamaian Hudaibiah ditandatangai dan selepas kepulangan Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah, seorang lagi penduduk Mekah yang beragama Islam telah melepaskan dirinya ke Madinah untuk mendapat perlindungan Nabi Muhammad s.a.w. Orang ini bernama Abu Basir. Permintaan orang yang kedua ini pun terpaksa ditolak oleh Nabi Muhammad s.a.w kerana menghormati Perdamaian Hudaibiah itu.Apabila tiba dua orang wakil puak Khuraish untuk membawanya pulang, ia pun diserahkan kepada orang-orang itu, tetapi sempat  juga Nabi Muhammad s.a.w menasihatinya supaya bersabar dan mengharapkan pertolongan Allah s.w.t.
                         
Dalam perjalanan ke Mekah, Abu Basir telah menggunakan helah untuk melepaskan diri. Kata Abu Basir kepada salah seorang daripada pengawal-pengawal itu:"Kawan, bagus sungguh pedang kamu itu."Setelah pedangnya dipuji demikian rupa, orang itu pun berasa bangga lalu menghunuskan pedangnya sambil berkata:"Betul kata kau. Pedang ini bagus dan aku telah mencubanya keatas beberapa orang manusia. Nah, tengoklah kalau awak hendak."
                      
Sebaik sahaja pedang tiba ketangannya, Abu Basir pun membunuh orang itu. Melihat apa yang telah berlaku, pengawal yang seorang lagi cabut lari ke Madinah untuk melapurkan kejadian tadi kepada Nabi Muhammad s.a.w Sementara itu Abu Basir sendiri telah tiba dihadapan Nabi Muhammad s.a.w Katanya kepada Nabi Muhammad s.a.w"Ya Rasulullah, tuan telah kembalikan saya untuk menunaikan janji-janji tuan kepada kafir-kafir Khuraish itu, tetapi saya sendiri tidak ada apa-apa yang hendak ditunaikan. Saya tidak berjanji, Saya melepaskan diri kerana takut kalau-kalau mereka merosakkan keimanan saya"
                         
Sahut Nabi Muhammad s.a.w"Kamu dengan secara tidak sedar sedang menyalakan apa peperangan. Tentu aku berasa suka kalau engkau dapat diberi pertolongan."
                         
Dari kata-kata Nabi Muhammad s.a.wAbu Basir berpendapat yang dia akan diserahkan kepada kafir Mushrikin sekiranya mereka membuat rayuan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Oleh yang demikian dia pun meninggalkan Madinah lalu menuju ke sebuah tempat dipadang pasir berdekatan dengan pantai. Tidak lama kemudian Abu Jandal pun menyertainya setelah melepaskan dirinya dari puak Khuraish. Bilangan mereka telah meningkat apabila lebih banyak orang perlarian Islam yang terlepas dari puak Khuraish menyertai mereka. Ditempat persembunyian mereka ini, mereka telah menghadapi penderitaan hidup yang maha hebat tetapi oleh kerana tidak tertakluk kepada Perjanjian Hudaibiah, mereka telah mengganggu khalifah-khalifah Khuraish yang berlalu lalang berdekatan dengan tempat persembunyian mereka. Demikianlah hebatnya gangguan-gangguan yang mereka jalankan sehinggan puak Khuraish terpaksa menemui Nabi Muhammad s.a.w dan merayu kepada Nabi Muhammad s.a.w. supaya berusaha memberhentikan gangguan-gangguan itu. 
                        
Mengikut cerita Abu Basir sedang menghadapi maut ditempat tidurnya apabila surat kiriman Nabi Muhammad s.a.wsampai ketangannya. Dalam surat itu Nabi Muhammad s.a.w telah membenarkan ia kembali ke Madinah. Dia meninggal sambil memegang surat yang dihantar oleh Nabi Muhammad s.a.w.
                      
Demikianlah kisah yang menunjukkan kekuatan iman seorang hamba Allah s.w.t. Tidak ada suatu kuasa pun dipermukaan bumi ini yang dapat merosakkan keimanan seseorang asal saja keimanan itu merupakan keimanan yang sejati. Allah s.w.t. tetap akan menolong orang yang benar-benar beriman denganNya.

KESYAHIDAN ANAS BIN NADHR



Anas bin Nadhr ialah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang tidak mengambil bahagian dalam peperangan Badar. Dia berasa kesal kerana tidak menyertai peperangan tersebut. Oleh hal yang demikian dia senantiasa menanti-nanti peluang untuk menyertai peperangan untuk menebuskan apa yang dianggapnya suatu kerugian bagi dirinya. Kesempatan yang dinanti-nantinya itupun tibalah apabila berlaku perang Uhud pada tahun yang berikutnya. Anas pun dengan serta merta menyertai tentera Muslimin dengan semangat kejihadan yang tulin maju kemedan pertempuran. Sungguhpun bala tentera yang dihadapi mereka berkali-kali ganda banyaknya namun tentera Muslimin sedang mengatasi pihak musuh. Tiba-tiba berlaku suatu kesilapan.
                         
Nabi Muhammad s.a.w. telah menghantar sepasukan pemanah-pemanah yang terdiri daripada 50 orang untuk menguasai tentera berkuda pihak musuh yang mungkin menyerang tentera Muslimin dari belakang. Mereka diperintahkan supaya menetap diatas sebuah bukit dibelakang tentera Muslimin selagi mereka tidak menerima arahan daripada Nabi Muhammad s.a.w. sendiri menyuruh mereka berundur dari situ. Tetapi mereka ini telah mengingkari arahan Baginda s.a.w. Apabila mereka lihat askar-askar musuh lari lintang pikang, diburu oleh Mujahid-Mujahid Islam, mereka menyangka yang kemenangan telah pun tercapai lantas meninggalkan tempat mereka sambil berkejar-kejaran untuk mendapatkan harta rampasan. Yang tinggal diatas bukit itu hanyalah ketua mereka dan beberapa orang yang masih taat. Apabila dilihat oleh pemimpin tentera mushrikin yang bukit itu telah terdedah, dia pun mengerah pasukannya menyebu dan membunuh tentera panah Muslimin yang masih bertahan diatasnya dan melancarkan serangan balas terhadap tentera muslimin dari belakang ketika mereka sedang asyik mengumpulkan tentera rampasan.Dalam keadaan kelam kabut inilah Anas terpandang kepada Saad bin Maaz yang sedang melalui hadapannya. Dia memekik mengatakan:"Ya Saad! Kemana engkau? Demi Allah! Aku mencium bau Syurga yang datangnya dari Jabal Uhud".
                        
Dengan berkata demikian dia pun menerkam musuh lalu menentang mereka habis-habisan sehingga dia gugur sebagai Syahid dimedan peperangan. Apabila badannya yang berlumuran darah itu diperiksa terdapat tidak kurang dari 80 liang luka semuanya.Tidak ada siapa yang dapat mengenalinya melainkan saudara perempuannya sahaja. Orang yang berjihad dijalan Allah s.w.t.. dengan penuh keikhlasan dan kejujuran akan mengecap nikmat syurga didunia ini dan diakirat. Demikianlah hal keadaannya dengan sahabat Anas bin Nadhr.