Kamis, 25 Agustus 2011

Halaqah-Sentuhan kalbu?




(Menangis di akhir Ramadhan)


Dalam kedamaian sahur, dan kedinginan sepertiga malam, setelah selesai melabuhkan tahajjud cinta dan kini tenang mau makan sahur yang menyelerakan ..., dibalik semua nikmat beragama ini, tidak terhintung banyaknya telah mengalir akan air mata dan darah para kekasih Allah ...


Mungkin kita lupa pada istri Musa yang kesejukkan di bawah kaki bukit Tsur, bersama anak-anaknya, yang tabah menunggu suami dan ayah mereka, yang telah pergi mengambil api dari puncak bukit, tapi suami yang di tunggu tak muncul tiba, karena hakikatnya si suami sudah di lantik menjadi Nabi, dan bermulalah sebuah pengorbanan anak beranak demi nikmat beragama untuk diri dan ummat yang akan datang .. ...


Dalam kemeriahan kita berbuka puasa pula, sedang asyik mau makan dan minum ..., dibalik semua nikmat beragama ini, tidak terhitung banyaknya telah mengalir air mata dan darah para kekasih Allah ...


Barangkali kita lupa pada Istri Ibrahim yang kepanasan dan kehausan, serta kelaparan dan kelelahan dalam mencari air di Lembah Safar dan Marwah .. sedang anak masih dalam susuan, lalu jadilah Jessica di lembah Mekah tanpa suami di sisi karena suaminya sedang berkorban demi mencari nikmat beragama untuk diri dan ummat yang akan datang .. ...


Hari ini kita shalat berlangitkan kipas koin, dan berdiri di atas karpet yang lembut lagi tebal, dan masjid yang sungguh indah dalam pandangan mata, di balik semua nikmat beragama ini, tidak terhitung banyaknya telah mengalir air mata dan darah para kekasih Allah ...


Mungkin kita lupa pada Summayah r.aha yang di tombak sehingga mati karena agama ini, atau keluarga Yassir yang juga mati di siksa, atau Nabi zakaria as yang di gergaji sampai terbelah dua atau juga Nabi Yahya a, s yang di pancung kepalanya, semuanya telah tewas demi karena agama!


Sesungguhnya, demi agama, Allah sanggup melihat kekasih tewas dan terus tewas dan di korbankan ....


Dalam kemeriahan kita semua berbuka puasa, makan bersama kecap cap 'Bilal', sebenarnya kita telah lupa pada Bilal bin Rabah yang hidupnya di siksa, di jemur di padang pasir sedang di dadanya di pasak dengan batu sebesar raksasa, saban malam di cemeti bergantian pula ...


Tak lupa juga akan kita yang berbuka dengan roti yang lembut atau khebab yang menyelerakan, daging panggang dan makanan yang serba enak .., sedang Khabbab bin Alarat ra telah di siksa karena agama ini, beliau di tarik pada bara api sehingga lemak dan darahnya telah memadamkan bara api .. semuanya demi karena agama ....berkorban dalam mencari nikmat beragama untuk diri dan ummat akan datang ...
Dalam kedamaian sahur, dan kemeriahan berbuka puasa, serta rukuk dan sujud yang merehatkan jiwa, di balik semua nikmat beragama ini, sebenarnya, tidak terhintung banyaknya telah mengalir akan air mata dan darah para kekasih Allah ...


Izinkan untuk aku terus titipkan beberapa lembaran kisah mereka yang telah menderita karena agama, berkorban dalam mencari nikmat beragama untuk diri dan ummat akan datang .. ...


Pada suatu waktu di saat zaman dan abad yang terbaik, ada cerita seorang sahabat Nabi SAW yang baru kematian istrinya sedang beliau masih memiliki seorang anak lelaki berusia 5 tahun, namun sahabat ini telah datang menemui Nabi SAW untuk bergabung jihad menegakkan agama Allah ...


Nabi menasehatinya supaya duduk di rumah bersama anaknya yang masih kecil itu .., tapi dia mendesak juga untuk bergabung, barangkali ia telah tercium bau surga. Dan Nabi Muhammad SAW telah membiarkan ia pergi ..
Si anak yang di bernama Basyir ini pun bukan calang calang budak. Meskipun baru berusia 5 tahun telah sanggup berpisah dan di pisahkan demi semata mata karena agama Allah. Bahkan si anak-anak para sahabat beliau ini akan saling berbangga terhadap ayah dan ibu mereka yang telah turut sama bergabung peperangan bersama Rasulullah SAW. Allah jua yang melemparkan pemahaman dalam diri mereka pada nilai agama ..


Setelah beberapa waktu berlalu, terdengarlah berita akan kepulangan tentara islam dari luar kota Madinah, nun di sana tampak segerombolan debu dan debu yang berterbangan menjulang ke langit efek hentakan tapak kaki kuda dan unta milik tentara islam. Di perbatasan Madinah, sebaik kuda dan unta menghentikan tapak kakinya, dan dalam suasana debu debuan yang masih beterbangan, si anak-anak sahabat sudah tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan bapak-bapak mereka. Dalam lari kasih sayang, Basyir bin Abarkah telah mendahului semua perindu yang lain, meskipun usianya baru 5 tahun, tapi beliaulah yang paling maju, katanya: ingin berteriak ayahnya .. maklumlah, mereka baru belajar arti rindu.


Debu debu pun mulai turun ke bumi. Sedikit demi sedikit terpancullah wajah kuda dan wajah unta yang setia. Dan debu debu pun masih terus turun ke bumi. Sedikit demi sedikit terlihatlah wajah tua tua mereka. Maka si anak mulai menerkam si bapak, dan bapak mulai menerpa si anak, mereka saling berpelukan menangis gembira melepaskan rinduku. Bapa mana yang tidak rindu pada anaknya? Anak mana yang tidak gembira bertemu ayahnya? Lantas terdengar suara takbir di sini sana, memuji Allah sambil menangis syukur ..Memuji Nikmat Allah ..Tidak lama kemudian .. perbatasan Madinah itu telah menjadi daerah sepi dan sunyi, yang tinggal hanyalah jejak kaki manusia dan binatang tunggangan. Namun yang terlihat pada waktu dan saat itu, Basyir budak berumur 5 tahun seorang diri sedang mencari ayahnya. Sudah puas ke kiri dan ke kanan ... sudah jauh mata memandang, sudah penat menunggu, namun si ayah yang di rindu, tidak datang-datang!. Tidak kunjung tiba! Ke mana ayah pergi? Kenapa masih belum pulang? Dalam debu debu yang masih tinggal, terlihat satu kelibat lelaki sedang berjalan ke arah Basyir bin Abarkah budak berumur 5 tahun itu,
Lalu si Basyir menerpa pria itu karena disangkanya ayahnya sudah pulang. Namun pria itu bukanlah ayahnya, sebaliknya pria itu adalah Nabi Muhammad SAW.
Lantas Basyir bertanya: Mana ayah ku?. Lalu Nabi memalingkan wajahnya ke kanan karena tidak sanggup untuk berkata kata. Si Basyir lantas bergerak kekanan Beliau dan terus bertanya: "Mana ayah ku?". Sekali lagi Nabi memalingkan wajahnya ke kiri lantaran tidak sanggup untuk menuturkan kata kata sedang air mata mulai berlinangan di pipi. Si Basyir tidak berputus asa dan terus bergerak ke kiri Beliau.
"Mana ayah ku?". Lalu Nabi duduk sama tinggi dan menjawab dengan nada sedih dan pilu sedang tangan beliau mengusap rambut Basyir ...."Anak .., Ayah mu telah syahid." Air mata anak terus mengalir hangat, di kala darah yang mengalir dari tubuh ayahnya sudah lama lenyap di telan bumi ....Lantas Nabi membujuk: "Maukah kamu aku menjadi ayahmu? Aisyah menjadi ibumu, dan Fatimah menjadi 
kakakmu ?"...


Dalam kedamaian sahur kita pagi ini, dan kemeriahan berbuka puasa sore nanti, serta rukuk dan sujud yang merehatkan jiwa di waktu malam, di balik semua nikmat beragama ini, tidak terhintung banyaknya telah mengalir akan air mata dan darah para kekasih Allah ... Sesungguhnya mereka telah mewarnai bumi Mekkah dan Madinah dengan darah ..


Disini juga biarlah aku ceritakan kisah Mus'ab bin Umair, yang hidup dalam kesempitan dan kedaifan, pada suatu hari telah berjalan melewati Rasulullah saw sedang dia hanya memakai sehelai kain yang telah koyak di beberapa bagian. Salah satu bagian yang terkoyak telah di tempel dengan kulit binatang karena tidak cukup kain, lalu sambil menangis Rasululullah bercerita kisah Mus'ab bin Umair kepada sahabat yang lain, bahwa sebelum islam, Mus'ab bin Umair adalah anak orang kaya dan hidup dalam kemewahan, di sayangi dan di manjai, hidup ditatang bagai minyak yang penuh, pakaiannya saja berharga 200 dirham dan hidup dengan penuh perhatian dari orang tua. Tapi sebaik beliau memeluk agama islam, beliau telah di murkai oleh orang tua, di ikat dan di kurung, satu hari ia dapat melepaskan diri dan lari menurut sahabat Nabi lalu hidup dalam kondisi zuhud dan miskin.
Di ujung pengorbanan, dalam perperangan Uhud, mayatnya di lihat terbujur tanpa ke dua-dua tangan, di potong musuh selangsung tugasnya yang memegang bendera .., dan beliau telah menutup dirinya dengan kain tapi tidak cukup lalu di tutup dengan daun-daun Izkhar. .


Dalam hidangan berbuka puasa yang enak dan meyelerakan, serta rukuk dan sujud yang merehatkan jiwa di sepertiga malam, di balik semua nikmat beragama ini, tidak terhintung banyaknya telah mengalir air mata dan darah para kekasih Allah ...


Dan ada juga cerita lain seorang ibu kepada beberapa anak lelaki yang di beritahu tentang kematian suami di medan perang, pada kematian anak sulung, pada kematian anak nomor dua dan seterusnya anaknya yang bungsu. Namun, Bila terdengar semua anggota keluarganya mati di jalan Allah dia masih tenang, tapi bila mendapat tahu anaknya yang bungsu juga mati, si ibu ini tertegun dan menangis ... dia dibujuk orang, agar bersabar dengan ujian Allah ..Tapi si ibu berkata: "janganlah kamu semua ucap takziah pada aku, tapi ucapkanlah selamat kepada aku, ..., aku menangis bukan karena semua anggota keluarga ku telah mati, tapi aku menangis karena aku sudah tidak anak lelaki lagi untuk di korbankan di jalan Allah. ! "


Dalam istirahat kita bertarawikh, dan sedang menikmati cemilan setelah lepas shalat witir, di balik semua nikmat beragama ini, sesungguhnya, tidak terhintung banyaknya telah mengalir akan air mata dan darah para kekasih Allah ...Seorang sahabat ketika ingin di campak ke dalam api oleh seorang Raja kafir telah menangis sambil berkata: "aku menangis bukan karena takut mati, aku menangis karena aku hanya ada satu nyawa saja, seandainya aku memiliki nyawa sebanyak bulu roma di badanku ... maka, satu demi satu akan ku korbankan untuk agama!!! "


Menjelang hari raya, saling bergembira, bertakbir di sana sini, di balik semua nikmat beragama ini, sesungguhnya, tidak terhitung banyaknya telah mengalir air mata dan darah para kekasih Allah ...


Mungkin kita lupa pada awal kerja Nabi di jalankan, ketika Nabi saw keluar dari rumah dengan baju yang bersih, tapi bila petang nanti pulang, baju Nabi sudah kotor, karena di jalanan beliau di pukul orang, di sepak terjang, di simbah sampah dan di lempar batu dan najis ..,


Dari celah daun pintu Fatimah r.aha anak Nabi mengintai perlakuan ayahnya yang tercinta, lalu bergenanglah air matanya melihat penderitaan ayahnya, namun begitu Nabi pulang, lekas-lekas beliau mengusap air mata dan menyambut beliau dengan senyuman, menyembunyikan kesedihan diri demi memberi dukungan moral dan sedikit hiburan kepada jiwa luhur bapaknya yang teramat tabah itu ..Namun hati anak mana yang tahan melihat ayahnya terus menerus di siksa? Lantas suatu hari beliau berjalan di belakang Nabi, melihat perlakuan ayahnya langsung, di jalanan dia melihat ayahnya berdakwah dan di hina, di perlakukan seperti pengemis dan binatang, di sakiti, di caci, di maki, di pukul, dan di lempari batu. ..Puncak penghinaan, ketika Nabi shalat di hadapan Ka'bah, Abu jahal dan sekutunya telah membuang kotoran dan perut unta ke belakang badan beliau yang sedang sujud .., dengan linangan air mata Fatimah r.aha datang membersihkan najis di badan ayahnya ..


Hati mana yang bisa bertahan, lantas di suatu hari yang lain, Fatimah ra telah menyambut kepulangan Nabi Muhammad SAW dengan linangan air mata., Lalu beliau bertanya: kenapa menangis? Dengan air mata yang bergenang, melihat penderitaan ayahnya, Fatimah r.aha berkata: "Aku menangis karena ku lihat telah berubah warna kulitmu dan kotor pakaianmu ..," Nabi menjawab ..."Janganlah kamu menangis wahai Fatimah, satu hari nanti, agama yang aku bawa ini, akan pergi menuju ke setiap rumah meskipun rumah itu berada di desa atau di Kota, dan Allah akan masukkan kemuliaan atau kehinaan ke dalam rumah seperti tersebarnya 
malam ..."


Maka kita semua pada hari ini, dalam kedamaian pagi dan ketenangan sore atau kesejahteraan malam, sedang kita menikmati nikmat beragama, mungkin di suatu hari akan datang wakil Nabi mengetuk pintu rumahmu, tidak kira di mana kamu berada, di desa atau di Kota, dan Allah akan masukkan kemuliaan atau kehinaan ke dalam rumahmu seperti tersebarnya malam ... dan bukakanlah pintu rumahmu dan pintu hatimu .., karena mereka hakikatnya sedang mengungkapkan hadits Nabi saw.
Ziarah mereka bukan karena hari raya, atau karena menuntut hutang, tapi semata mata karena Allah, mudah-mudahan kamu dan mereka akan dapat menikmati ruang di bawah arashy berkat amalan ini, dan semoga Allah kasihan pada kamu dan mereka lantaran praktek yang mulia ini lalu mempertahankan kita semua dalam iman, dan menyebarkan hidayat ke seluruh alam, sehingga akhirnya semua pria akhil baligh dapat minikmati shalat berjamaah, dan semua wanita akhil baligh dapat menikmati shalat di awal waktu dan tutup aurat dengan sempurna, kemudian, anak-anak akan taat perintah orang tua , dan istri-istri akan taat perintah suami dan semua mahkluk akan taat perintah Allah lalu menyembah Allah dengan cara yang paling layak selayak-layaknya Dia di sembah! ...

Sesungguhnya, Dalam kedamaian sahur, dan kemeriahan berbuka puasa, serta rukuk dan sujud yang merehatkan jiwa, di balik semua nikmat beragama ini, tidak terhitung banyaknya telah mengalir air mata dan darah para kekasih Allah ...


Akupun tak kuasa haru melihat perjuangan kekasih Allah, akankah kita tak mampu meneruskan perjuangan mereka walau hanya dengan menuliskannya ??

Rabu, 24 Agustus 2011

Perjuangan Rasulullah SAW: Qudwah Buat Ummat Islam

 
Sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah rentetan sejarah hidup yang panjang yang mengandungi pelbagai pengajaran dan pendoman untuk umat Islam. Sejarah kehidupan atau sirah baginda Rasulullah SAW dihiasi dengan kisah perjuangan yang tidak mengenal erti jemu, sebuah hakikat pengorbanan yang sangat tinggi, pergantungan dan kepasrahan sepenuhnya kepada Allah SWT, dan contoh panduan yang hidup untuk dijadikan ikutan sepanjang zaman. Inilah ketetapan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, bahawa segala apa yang dialami oleh Rasulullah SAW adalah contoh panduan kepada umat Islam. Keperibadian dan kehidupan baginda umpama “manual” panduan untuk dilihat dan dijadikan contoh oleh seluruh manusia dan seharusnya kita fahami bahawa baginda Rasulullah SAW adalah sebaik-baik contoh dan ikutan.

Firman Allah SWT yang bermaksud :
“ Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingati Allah.”
( Al- Ahzab : 21)


Rasulullah SAW telah berjaya membina satu ketamadunan yang hebat dan gemilang. Di dalam buku yang ditulis oleh seorang penulis barat iaitu Michael H. Hart, beliau telah meletakkan Nabi Muhammad SAW di tempat pertama dalam senarai 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah manusia, malah ia mengalahkan Isaac Newton dan Jesus Christ sendiri.
Bukunya The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, menyatakan bahawa satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW menjadi insan berpengaruh adalah kerana kualiti yang ada pada diri baginda. Kualiti yang dimaksudkan ialah kualiti integriti dan kualiti kompetensi. Inilah yang menjadikan kehidupan baginda sangat signifikan kepada manusia lain terutamanya kepada para sahabat di bawah didikan Baginda.
Di dalam Islam, kualiti ini kita namakan ia sebagai akhlakul karimah atau budi pekerti yang mulia. Bermula dari kualiti ini akhirnya Rasulullah SAW berjaya membentuk dan membina satu tamadun yang sangat gemilang dan dihormati seantero dunia. Sudah pasti terdapat satu rahsia yang perlu dilihat secara terperinci terhadap proses pembentukan ketamadunan Islam yang diasaskan oleh baginda Rasulullah SAW kerana di dalam hanya masa yang singkat iaitu 23 tahun, Baginda berjaya mengasaskan dan membentuk satu ketamadunan yang mampu bertahan selama 1400 tahun!
Justeru itu, melihat dan meneliti sejarah perjuangan Rasulullah SAW adalah menjadi keutamaan kita di dalam menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh dan murrabi di dalam perjuangan menegakan Islam.

Sejarah Sebelum Islam

Sebelum zaman kedatangan Islam, kehidupan masyarakat arab jahiliyah pada ketika itu berada dalam kehidupan yang porak peranda dan hilang aspek nilai kemanusiaannya. Masyarakat arab ketika itu, berada dalam keadaan yang jahil  disebabkan  sistem kemasyarakatan yang rosak dan penindasan sesama manusia itu berlaku secara berleluasa. Kerosakan ini berlaku dalam pelbagai aspek kehidupan termasuklah dari segi ekonomi, perundangan dan juga sosial kehidupan. Di dalam buku sejarah, para ahli sejarahawan menamakan zaman ini sebagai zaman jahiliyah atau zaman kegelapan.
Pada dasarnya, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki sifat-sifat positif seperti berani, setia, ramah, sederhana, cintakan kebebasan dan menghormati tetamu. Mereka juga mempunyai kelebihan-kelebihan lain seperti ingatan yang kuat dan pandai bersyair. Namun kerana sifat jahiliyah yang menyelimuti kehidupan mereka, segala kebaikan itu tenggelam dalam sifat keburukan. Mereka berpaling daripada kebenaran, menyembah berhala yang pelbagai jenis rupa dan bentuk, melanggar hak orang lain dan menindas sesama manusia.
Kejahilan ini terus menyelubungi masyarakat jahiliyah sehingga kedatangan Nabi Muhammad SAW yang akhirnya telah mengubah kehidupan mereka. Cahaya keislaman itu telah menyinari kehidupan mereka yang gelap kepada kehidupan yang terang benderang dan akhirnya mereka dapat hidup dengan aman serta bahagia dipimpinan Rasulullah SAW.

Sejarah Semasa Zaman Rasulullah SAW

Namun, selepas kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan membawa risalah kebenaran kepada masyarakat arab, kehidupan mereka berubah sama sekali. Risalah Islam yang benar ini telah mengubah kehidupan yang penuh dengan kegelapan kepada kehidupan yang disinari dengan cahaya keimanan kepada Allah SWT. Proses dakwah baginda Rasulullah SAW di Makkah telah menekankan kepada aspek keimanan kepada Allah SWT sebagai teras dan tunjang pembinaan masyarakat Islam yang tulen dan kukuh.
Dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah seruan dan ajakan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Rasulullah SAW membina ummah Islam bermula dengan diri baginda seorang diri secara terancang sehinggalah lahirnya satu kelompok muslim yang beriman kepada Allah SWT dengan seluruh jiwa dan raga mereka. Mereka inilah generasi awal yang menerima didikan Rasulullah SAW secara terus-menerus sehinggalah mereka digelar sebagai “ sebaik-baik generasi” di dalam sejarah peradaban manusia.
Firman Allah SWT di dalam surah Ali-Imran : 110 yang bermaksud :
“ Kamu ( umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kerana (kamu) menyuruh berbuat yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya ahli kitab yang beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Di dalam usaha baginda mengajak kepada Islam, baginda telah melakukan proses pembinaan individu muslim secara terancang dan proses ini mengambil masa yang begitu lama. Proses pembentukan ini menekankan kepada proses penanaman aqidah dan keyakinan kepada Allah SWT secara mendalam. Proses pembinaan generasi unggul ini adalah berteraskan kepada proses pendidikan Islamiyah dan dakwah islamiyah secara tersusun dan terancang.
Rasulullah SAW telah menggunakan beberapa kaedah untuk melaksanakan usaha dakwah ini. Antara perkara yang utama yang dilakukan ialah dengan menghimpunkan hati-hati dan jiwa-jiwa yang bersih serta ikhlas untuk diproses dengan didikan keimanan kepada Allah SWT. Pemilihan individu ini tidak berlaku secara kebetulan, tetapi ia dilakukan secara sedar dan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Proses penanaman aqidah ini berterusan sehinggalah jumlah generasi awal di bawah didikan Rasulullah SAW mulai bertambah dari satu masa ke satu masa. Dakwah peringkat rahsia ini mempunyai penekanan yang memfokuskan kepada proses didikan hati dan pembinaan individu muslim secara kolektif. Pendidikan yang dijalankan oleh baginda Rasulullah SAW adalah proses yang mensasarkan kepada pendidikan hati. Pendidikan hati ini ditekankan dengan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, keikhlasan dan ihsan kepada Allah SWT sehinggalah melahirkan suatu keperibadian yang murni dan berakhlak mulia.
Proses pendidikan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW adalah tunjang kepada pendidikan yang mendidik jiwa dan hati untuk patuh dan mengesakan Allah SWT. Pada peringkat ini, sumber rujukan baginda hanyalah Al-Quran semata-mata. Ini bertujuan untuk memastikan para sahabat generasi awal mendapat satu kefahaman yang benar-benar bersih dan tulen berkaitan Islam. Penekanan kepada sumber rujukan yang satu ini boleh digambarkan melalui satu sirah Rasulullah SAW. Pernah satu ketika Saidina Umar Al-Khattab membawa satu kitab yang dikatakan sebagai kitab Taurat untuk dijadikan bahan didikan Islam. Pada ketika itu, merah muka baginda Rasulullah SAW, dan sambil berkata : “ Sekiranya, Nabi Musa ada pada ketika ini, nescaya beliau juga mengikut aku.”

Zaman Ketamadunan Islam

Zaman pemerintahan Islam sesudah wafatnya Rasulullah SAW diteruskan dengan gagasan pemerintan sistem Khalifah Islamiyah iaitu kepimpinan Khulafa’ Ar Rasyidin, Kerajaan Bani Umaiyah, Kerajaan Bani Abbasiyah dan Kerajaan Bani Uthmaniyah. Zaman ketamadunan ini melalui satu perjalanan pembinaan, perkembangan dan kejatuhan yang sangat panjang.  Sejarah telah menunjukan peradaban ketamadun Islam pernah mencapai zaman kegemilangannya sehingga seluruh dunia mengenali dan mengakui kehebatan Ketamaduanan Islam.
Pengasas kerajaan Bani Umaiyyah ialah Umaiyyah bin Abdul Syams,seorang pemimpin kaum Quraish yang kaya dan berpengaruh.Pada zaman ini, perkembangan penyebaran Ilmu berkembang pesat terutamanya pada Zaman Khalifah Umar Abdul Aziz.Penghasilan teknologi baru seperti Seni Ukir, sistem pengasing benda asing melalui aplikasi tarikan graviti dan juga kinci air.
Kemudian sistem pemerintan Islam diteruskan dengan pemerintahan kerajaan Abbasiyah pada 763 M.  Penubuhan Kota Baghdad  sebagai Pusat pemerintahan Khalifah Bani Abbasiyah telah menjadi dimensi perubahan kerajaan Islam ketika itu.Pada tahun 786 M merupakan zaman Keemasan Bani Abbasiyah ( Pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid dan Anaknya Al-Makmum).
Ketika itu ilmu berkembang pesat dan masyarakat Islam sangat dihormati kerana kemajuan yang dikecapi oleh mereka. Pembinaan Baitul Hikmah telah merancakan lagi aktiviti penyebaran ilmu dalam peradaban tamadun Islam. Baitul Hikmah telah menjadi  pusat penyebaran dan pengumpulan Ilmu yang mengandungi setengah juta jilid buku dan 36 buah perpustakaan. Dengan jumlah buku yang banyak ini, pihak pengurusan baitul hikmah yang memerlukan 120-400 ekor unta untuk pindahkan kesemua buku-buku itu ke suatu tempat. Pada era ini, lahirlah tokoh-tokoh ilmuan  Islam yang terkenal seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusdh dan ramai lagi.

Zaman keruntuhan Islam

Setelah melalui sejarah ketamadunan yang panjang, umat Islam mengalami kemunduran dan perpecahan di kalangan mereka. Akhirnya ketamadunan Islam mengalami saat-saat keruntuhan dan kehancuran yang amat memilukan hati dan jiwa umat Islam seluruh dunia. Jika dilihat dan diamati, antara faktor keruntuhan ini adalah berpunca daripada Umat Islam itu sendiri.

Bertarikh pada 3 Mac 1924, ia merupakan tarikh kesedihan dan saat yang memilukan ummat Islam seluruh dunia kerana pada tarikh ini runtuh dan berakhirnya sebuah empayar Islam yang selama ini memayungi pemerintahan kerajaan Islam di seluruh dunia. Keruntuhan kerajaan Turki Uthamaniyah memberi tamparan yang hebat kepada umat Islam dan ia telah memberi kesan yang sangat besar kepada sejarah umat Islam dalam sejarah dunia.
Dalam kajian sejarah, punca-punca keruntuhan yang paling ketara ialah masalah perebutan kuasa di kalangan Khalifah Islam pada ketika itu, sikap sambil lewa pemerintah yang lebih sukakan hiburan serta mengejar kemewahan dan sekaligus menunjukan kepimpinan yang sangat lemah. Selain daripada itu, masalah konflik dalaman sesama umat Islam dan konflik luaran daripada musuh Islam itu sendiri, menambahkan lagi masalah kepimpinan Islam pada zaman tersebut untuk terus mengekalkan kegemilangan Islam.

Suasana Ummat Islam Kini

Ketamadunan Islam telah melalui satu rentetan sejarah yang panjang bermula pada zaman Rasulullah SAW sehinggalah kepada zaman pemerintahan Khalifah Uthmaniyah yang berakhir dengan kejatuhan sistem khalifah islamiyah. Sejarah ketamadunan islam yang panjang ini, memberi kesan yang sangat mendalam kepada pembinaan, pembentukan dan keberadaan ketamadunan Islam sehingga kini.
Kini, kita dapat lihat keadaan ummat Islam yang semakin hari semakin lemah dan tiada perpaduan di kalangan mereka sendiri. Kelemahan inilah yang banyak memberi kesan kepada kemajuan dan kemunduran umat Islam pada hari ini. Sekiranya, tiada usaha-usaha yang bersepadu ke arah pemulihan dan kebangkitan semula ketamadunan Islam ini, nescaya umat Islam akan terus berada dalam krisis perpecahan dan kehancuran.
Negara Islam secara umumnya dan umat Islam secara khususnya, sangat lemah dari segi pelbagai bidang dan aspek. Jika kita nyatakan satu per satu bidang yang ada, tiada satu pun Negara Islam yang mampu menandingi Negara-negara barat yang ada di dunia ini. Hampir semua aspek umat Islam lemah. Antaranya, aspek ekonomi, pendidikan, keilmuan, pembangunan Negara, dan sebagainya. Satu contohnya mudah, dari segi ekonomi dan pembangunan, tidak ada satu pun Negara Islam yang tersenarai dalam negara yang maju dan hanya beberapa buah Negara Islam sahaja yang terletak dalam senarai Negara yang membangun.

Penyelesaian Ke Arah Kebangkitan Islam

Justeru itu, usaha ke arah pemulihan ini harus dimulakan dan diteruskan sehinggalah umat Islam kembali kepada acuan yang sebenar seperti yang digariskan oleh Allah SWT. Sekiranya kita kembali kepada sejarah yang dinyatakan di atas, kita akan dapati formula untuk membina dan membentuk sesuatu generasi dan tamadun itu telah pun ditunjukan serta dilaksanakan oleh baginda Rasulullah SAW.
Seharusnya, jalan, kaedah, cara dan juga panduan yang ditunjukan oleh Rasulullah SAW dijadikan kaedah utama dalam membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Perkara inilah yang seharusnya menjadi perkara utama yang kita tekankan dan fokuskan sekiranya kita ingin membina semula generasi Islam yang dapat mengembalikan kegemilangan Islam.
Fokus penekanan Rasulullah SAW adalah membangunkan sumber manusia itu sendiri. Inilah modal utama pembangunan dan pembinaan ketamadunan Islam. Peringkat awal perkembangan Islam, tapak asas kepada tamadunan Islam yang dibina oleh Rasulullah SAW adalah penanaman ‘aqidah yang jitu dan kukuh di dalam jiwa dan hati para sahabat dan pengikut Rasulullah SAW. Kekuatan aqidah inilah yang menjadi tonggok utama kepada penyebaran dan perjuangan Rasulullah SAW di dalam mengerakan jentera dakwah selepas era dakwah rahsia kepada dakwah terbuka.
Seharusnya, pembinaan sumber manusia bermula dengan aspek aqidah dan kepercayaan ini. Ia boleh diserapkan melalui proses pendidikan kerohanian dan ini wajar dicontohi dan dilaksanakan oleh Ummat Islam di dalam kehidupan seharian mereka.
Seharusnya inilah penghayatan yang perlu dilakukan oleh Ummat Islam dalam mencontohi perjuangan Rasulullah SAW. Sunnah yang paling besar yang ditinggalkan oleh baginda Rasulullah SAW adalah perjuangan dan penyebaran ajaran Islam itu sendiri. Lantas, segala kehidupan yang ditunjukan oleh baginda mestilah difahami, dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan seharian secara penuh sedar dan faham. Inilah kejayaan utama yang harus dilihat secara serius dan seterusnya dilakukan sebagai agenda utama dalam kehidupan kita.

Sumber : http://www.haluan.org.my/v3/index.php/sejarah-perjuangan-rasulullah-saw-qudwah-buat-ummat-islam.html

19 Hadist Rasulullah SAW Mengenai Wanita


.
1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.
.
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
.
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.
7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
10. Perempuan apabila sembahyang limawaktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”.
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
“Barangsiapa mempunyai harta yang banyak, akan lama hisabnya pada hari Akhirat.” Hadits Riwayat :Imam Ahmad bin Hambal

Detik Detik Wafatnya Rasullullah SAW



Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda
.
“Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah.” Allah berfirman: “Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
.

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la’ la.” Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: “Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.” Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.
Kemudian baginda bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.”

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assolah yarhamukallah.” Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit?” Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: “Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat.” Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?” Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: “Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: “Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka.” Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:
“Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.
Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!”
Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit.” Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: “Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma.” Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia?”Fatimah menjawab: “Tidak wahai baginda.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: “Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah.” Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Saya tinggal ia di langit dunia?” Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah.” Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab: “bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.” Baginda SAW bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.” Baginda SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.
Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?” Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?” Jibril menjawab: “Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.” Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.

Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?” Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga. Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?” Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW. Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: “Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa’ir.”

Sumber : http://www.2lisan.com/artikel/detik-detik-kewafatan-rasullullah/

Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW



“Maha Suci Allah yang menjalankan hambanya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsa (di Palestin) yang Kami berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Allah jualah yang amat mendengar lagi maha mengetahui.” – Al Isra’
.
Berdasarkan banyak hadis – hadis mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj, para ulama meringkaskan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai berikut;
.
RASULULLAH saw mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh Jibril, Mika`il dan satu malaikat yang lain. Hati Baginda saw. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) yaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu dan iman ke dalam dada Rasulullah saw.

Selesai pembedahan, didatangkan binatang Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Isra’ ”
Isra’ (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masdil-Aqsa):Sepanjang perjalanan (Isra’) itu Rasulullah saw. diiringi (ditemani) oleh Jibril a.s dan Israfil a.s. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat- tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah diarah oleh Jibril supaya berhenti dan bersembahyang dua rakaat. Antara tempat- tempat berkenaan ialah: Madyan dan Tursina, yaitu tempat nabi Musa as berbicara (munajat) dengan Allah dan Baitul-Laham (tempat nabi ‘Isa a.s dilahirkan).

Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah saw. menghadapi gangguan jin ‘Ifrit dengan api jamung dan dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya : Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. Apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah- olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Raslulullah saw dibertahu oleh Jibril : Itulah kaum yang berjihad fisabilillah yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.Tempat yang berbau harum. Rasulullah saw. diberitahu oleh Jibril a.s : Itulah bau kubur Masyitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anaknya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai tuhan).

Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibril meberitahu Rasulullah : Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu neraka jahannam. Kata Jibril : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak dan elok ada di sisi mereka. Kata Jibril: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibril : Itulah orang yang makan riba`.

Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibril : Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibril: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya. Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibril: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.

Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibril : Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibril : Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat. Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah saw tidak menghiraukannya. Kata Jibril: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.

Tiba di masjid al-Aqsa, Rasulullah saw. turun dari buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi ma`mum. Rasulullah saw terasa dahaga, lalu dibawa Jibril dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibril: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.

Mi’raj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):
Didatangkan mi’raj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah saw. dan Jibril a.s. naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
Langit Pertama:Rasulullah saw. dan Jibril masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan nabi Adam a.s.
Langit Kedua: Nabi saw dan Jibril naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan nabi ‘Isa a.s dan nabi Yahya a.s.
Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan nabi Yusuf a.s.
Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan nabi Idris a.s.
Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan nabi Harun a.s yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
Langit Keenam:Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan nabi-nabi. Seterusnya dengan nabi Musa a.s. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibril) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab. Langit Ketujuh:
Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul- Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah saw, nabi Ibrahim a.s. bersabda, “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga yaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Mengikut riwayat lain, nabi Irahim a.s bersabda, “Sampaikan salamku kepada umahmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanaman- ya ialah lima kalimah, yaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”.

Setelah melihat beberapa peristiwa lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibril masuk ke dalam Baitul-Makmur dan sholat. (Baitul- Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).
Tangga Kedelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah s.a.w menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu : Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata- permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah s.a.w dapat menyaksikan pula sungai al-Kautsar yang terus masuk ke syurga.

Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.

Tangga Kesembilan:Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah s.a.w masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, yaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.

Tangga Kesepuluh:Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul- Arbab lalu dapat bertemu Allah Subhanahu wa Taala, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul- Nya: Allah S.W.T: Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S.W.T Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.

Allah S.W.T: Aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji- panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan Aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.

Selesai munajat, Rasulullah s.a.w di bawa menemui nabi Ibrahim a.s kemudian nabi Musa a.s. Nabi Musa a.s. menyuruh Rasulullah s.a.w merayu kepada Allah S.W.T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

Selepas Mi’raj:Rasulullah saw. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini Baginda saw. bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peistiwa Isra’-Mi’raj yang amat ajaib itu
(Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rajab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu a’lam.

Kisah Isra’ – Mi’raj Nabi Muhammad SAW selalu menarik perhatian terutama bagi saintis. Berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan digali untuk menyingkap misteri disekitar perjalanan Rasulullah SAW pada waktu malam hari dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsa, perjalanan beliau yang dinamai Isra’.

Demikian pula perjalanan Beliau dari Masjidil Aqsa dengan naik tangga ke langit pertama, kedua dan seterusnya, sampai langit ke tujuh kemudian ke Shidratul Muntaha perjalanan Beliau yang dinamai Mi’raj. Ada dua hal yang bisa dipermasalahkan.

Pertama apakah perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang Beliau jalani dengan badan dan ruh atau dengan ruh Beliau saja ?.

Kedua, dimana letak tujuh lapis langit yang Beliau harungi ?. Apakah itu di sistem tata surya kita dengan planet – planet Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto ? atau diluar sistem tata surya kita, atau di galaksi kabut susu, atau di galaksi yang lain, misalnya di galaksi Andromeda.

Ataukah sama sekali di luar alam semesta yang kita hayati ini ?

Sebagian besar umat Islam berpendapat, bahwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW dilaksanakan dengan ruh dan badan. Alasan mereka ialah, bahwa Rasulullah SAW menceritakan kisah itu tidak menyebut – nyebut, bahwa Beliau melakukan perjalanan itu hanya dengan ruh.

Dan seandainya itu melakukan perjalanan itu dengan ruh saja, niscaya orang – orang kafir tidak mempersoalkan jarak yang demikian jauh dapat dilakukan kurang dari satu malam. Sebagian umat berpendapat, bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh Beliau, sedang badan Beliau tetap di Mekkah. Mereka berpendapat orang dapat mengeluarkan ruh dari badannya.

Memang ada dikemukakan kasus – kasus seperti itu. meskipun cerita – cerita tentang orang yang dapat mengeluarkan badan ruhaninya atau badan halusnya dari badan jasmaninya tercatat beberapa macam, tetapi kebenaran cerita – cerita itu masih belum sampai pada penelitian ilmiah yang dapat dipercaya dalam dunia sains.

Antara lain suatu kisah tentang orang yang mengalami operasi. Ketika dibius, dia merasa ringan dan terbang keatas. Dia melihat badan jasmaninya mengalami operasi. Ruh yang sudah keluar dari jasmani kasar melayang keluar rumah sakit sampai pada kompleks pertokoan. Di situ dia melihat seorang kawan sedang berhenti berjalan di muka toko sepatu dan melihat – lihat di etalase. Ruh itu kemudian terbang kembali memasuki jasmani kasarnya. Ketika di cek, kawan yang dilihat berdiri di muka toko sepatu itu cocok dengan pengamatannya, yakni hari, dan waktunya. Ini dianggap suatu bukti bahwa badan halus mampu keluar dari badan kasarnya.

Wallahu’alam bish shawab.

Langit yang Tujuh Lapis

Masalah yang kedua menyangkut tempat Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke langit pertama, kedua, ketiga, sampai langit ke tujuh, bahkan kemudian naik sampai ke Shidratul Muntaha. Perkembangan ilmu astronomi sudah sampai kepada wujudnya galaksi – galaksi selain galaksi kabut susu tempat system tata surya kita.

Interpretasi mengenai tempat Mi’raj Nabi Muhammad SAW mengalami kebingungan. Bila dikatakan Nabi Muhammad SAW hanya mengarungi planet Pluto, yakni planet yang posisinya paling jauh dari matahari, itu terlampau dekat bagi perjalanan Mi’raj, sebab jagad raya kita terdiri dari galaksi – galaksi yang banyak sekali lalu mana itu Tujuh Lapis Langit yang di harungi oleh Rasulullah SAW bersama – sama malaikat Jibril a.s ?

Kini perkembangan astronomi lebih maju lagi. Dengan teori grup matematika yang beroperasi didalam ruang yang berdimensi sebelas, empat diantaranya dimensi ruang waktu yang kita alami, ditemukan bahwa terdapat kemungkinan adanya shadow world atau alam bayangan itu tidak mesti sama dengan apa yang ada di alam kita ini.

Bahkan kita dapat menghubunginya lewat medan gravitasi. Teori ini masih berkembang yang memerlukan pengkajian secara eksperimental.

Sikap Seorang Muslim

Setiap orang muslim yang mempercayai Allah dan Rasulnya pasti mempercayai kisah Isra’ dan Mi’raj yang bersumber dari Al qur’an dan Sunah Shohihah. Adapun Interpretasi tentang kisah tersebut bervariasi. dan setiap muslim berhak memilih macam variasinya yang dimantapinya. Orang yang mantap berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW dijalani dengan ruh dan badan tidak menganggap orang yang berpendapat bahwa dengan ruh saja sudah termasuk kafir. Tidak demikian ! Sebab soal tersebut tidak termasuk soal prinsip yang menyebabkan kekufuran.

Artikel ini juga tidak bermaksud untuk membuat pembaca nan budiman menjadi bingung, tak tahu mana yang paling benar dari berbagai macam variasi interpretasi. Bahkan hendaknya setiap muslim selaku ulul albab, yakni yang dianugerahi oleh Allah SWT intelegensi akal fikiran ikut memikirkan interpretasi – interpretasi tersebut, mengadakan koreksi, merevisi, dan bila mampu melakukan inovasi. Kebenaran mutlak ada pada sisi Tuhan dan tidak berubah, juga tidak terpengaruh oleh adanya berbagai macam interpretasi yang mungkin berubah – ubah menurut perkembangan pemikiran manusia.

‘Ala kulli hal, kita meyakini kisah Isra’ dan Mi’raj sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Surat Al – Isra’ ayat 1 dan dituturkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits – hadits shahih. Adapun tampat Beliau menjalani Mi’raj, ilmu pengetahuan sampai kini belum menemukan keterangan yang qath’I atau pasti. Allah yang paling mengetahui.

Adapun dengan ruh saja atau dengan badan dan ruh, jumhur ulama berpendapat bahwa Rasulullah SAW menjalani perjalanan Isra’ dan Mi’raj dengan badan dan ruh. Wallahu a’lam..

Sumber : http://www.2lisan.com/tulisan/kisah2/peristiwa-isra-mikraj-rasulullah/

Kisah perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif.





Thaif adalah sebuah daerah yang terletak hanya 80 km dari Mekah, tetapi mempunyai iklim yang sungguh berbeza dengan Mekah.

Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.

Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.

                        Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish.

Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka.

Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka.

Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar.

                        Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: "Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?"Kata seorang lagi sambil ketawa: "Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?"Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: "Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau."

                        Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan  pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan.

Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatas Baginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif, Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud:

                        " Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah  teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"

                         Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:" Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu."

                        Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:"Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini."

                        Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:"Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya."

                        Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.

Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.

Sumber : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/

KISAH NABI SALEH ALAI HIS SALAM


Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama "Alhijir" terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah s.w.t. sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud a.s. Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berqurban, tempat mereka minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan pancaindera. 
Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud
Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah s.w.t. tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mereka, menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan dengan demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin. Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau melindungi mereka dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mereka bahawa ia adalah seorang daripada mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mereka. Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mereka dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia menerangkan kepada mereka bahawa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah s.w.t. dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka adalah amanat Allah s.w.t. yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan mereka semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan. Allah s.w.t. dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mereka sendiri. Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya: "Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpin kami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Engkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya. Kami sesekali tidak akan meninggalkannya kerana seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mereka dan mengikuti jejakmu."

Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah s.w.t. yang telah mengurniai mereka rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah s.w.t. kerana menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu boleh terjadi di atas mereka jika mereka tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah daripada mereka atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah s.w.t. yang ditugaskan kepadanya dan Allah s.w.t.lah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mereka.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mereka yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya: "Wahai Saleh! Kami kira bahawa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir. Engkau telah menjadi gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahawa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu daripada kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahawa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahawa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: "Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahawa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun daripadamu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah s.w.t. dan daripada-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku. Janganlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mereka menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah s.w.t. Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh a.s.
Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka. Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahawa mereka akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah s.w.t. agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah s.w.t. dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka: "Inilah dia unta Allah s.w.t., janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah s.w.t. ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahawa Allah s.w.t. akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."
Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahawa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh
Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh. Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya dilalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendapat sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang. Berkata mereka kepada Nabi Saleh: "Wahai Saleh! Untamu telah mati dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."

Nabi Saleh menjawab: "Aku telah peringatkan kamu, bahawa Allah s.w.t. akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah s.w.t. talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu. Kamu telah menentang Allah s.w.t.  dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya. Janji Allah s.w.t. tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah s.w.t. dan takdir-Nya yang tidak dapat ditunda atau dihalang."

Ada kemungkinan menurut ahli tafsir bahawa Allah s.w.t. melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mereka sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya. Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah s.w.t. Yang Dijanjikan
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahawa azab Allah s.w.t. yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah s.w.t. yang pedih. Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu. Mereka mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mereka sebagai pembunuhnya. Rancangan mereka ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mereka di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah s.w.t. telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir. Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah s.w.t. berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran
Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh a.s.
Pengajaran yang menonjol yang dapat dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahawa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dapat membinasakan masyarakat itu seluruhnya. Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi kerana dosa dan pelanggaran perintah Allah s.w.t. yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh a.s. Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah s.w.t. agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Kerana dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi didalam masyarakat dan lindungan kita, kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.

Sumber : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/himpunankisahparanabi1.htm