Senin, 21 November 2011

Menentang Ego


Kisah ini tentang salah satu Mursid dalam Tarekat Naqshbandi Rantai Emas, yang dilapori salah seorang muridnya tentang adanya pendeta Hindu yang mempunyai kemampuan lebih : bisa terbang, berjalan di atas air dan mengetahui hal hal yang akan datang. Maka Mursid inipun dengan mengucapkan basmalah, dalam sesaat sudah berada di hadapan pendeta Hindu tersebut, yang segera menyambutnya dengan hangat :”Selamat datang Shaykh, saya tahu anda akan hadir, maka saya sengaja menyediakan hidangan yang halal, hewan ternaknya disembelih oleh pembantu yang seorang Islam juga. Mari silahkan dinikmati hidangan yang sudah saya sediakan ini.” Mursid Naqshbandi itu menjawab :”Terima kasih. Tetapi saya tidak mau menyantap hidangan ini sebelum anda mengucapkan dua Kalimat Shahadat.”
Maka sang pendeta Hindu menundukkan kepalanya, lama. Lama sekali. Sejam lebih baru akhirnya dia mengangkat kepalanya dan mengucapkan kalimat Shahadat dihadapan Mursid itu. Sang Murshid bertanya :”Mengapa anda tadi memerlukan waktu yang lama sekali baru bersedia mengucapkan dua Kalimat Shahadat?”
Sang pendeta menjawab :”Kebiasaan lama saya adalah selalu menentang apa yang dikatakan ego saya, maka saya bisa mencapai kedudukan saya yang sekarang. Kalau ego saya suruh saya ke kanan, saya ke kiri Kalau ego menyuruh saya maju, saya mundur. Tadi ketika anda minta saya mengucapkan dua kalimat shahadat, ego saya membujuk panjang lebar agar saya tidak melakukan itu, karena kata ego, saya akan kehilangan semua yang telah saya capai dengan memeluk Islam. Kata ego, saya akan kehilangan semua kepandaian saya. Saya akan kehilangan status sosial saya. Saya akan ditinggal kan para pengikut saya. Saya pikir itu semua adalah yang saya sukai, saya senangi. Maka lama sekali saya harus bergulat dengan ego. Meskipun sudah menjadi tradisi saya untuk menentang ego, tetapi kalau saya kehilangan itu semua, saya juga tidak mau. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, akhirnya saya mantap meneruskan tradisi saya : menentang ego. Maka saya pun mengucapkan dua kalimat shahadat itu.”
Diceritakan bahwa pendeta Hindu itu setelah masuk Islam, karena dia selalu menen tang egonya, maka seluruh ilmu hitamnya telah dirubah Allah menjadi ilmu putih, sehing ga kepandaiannya bukannya berkurang malah bertambah.

Keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal


Semua ulama telah mengambil rukhshah. Menghadapi fitnah dan siksaan yang ditimpakan oleh khalifah di antara para ulama ada yang memilih menyembunyikan keyakinannya dan menampakkan kekafiran secara terang-terangan. Ada juga yang menampakkan kekafiran secara tawriyah, tidak terang-terangan. Saat ditanya apakah al-Qur`an itu makhluk ataukah kalamullah mereka menjawab, “Allah menurunkan empat kitab suci. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud.” Mereka menjawab ini sambil menunjuk jari telunjuk. “Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.” Lanjut mereka sambil menambahkan jari tengah atas jari telunjuk memberi isyarat dua. “Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa.” Mereka pun menambahkan jari manis mengisyaratkan jumlah tiga. “Dan al-Qur`an diturunkan kepada Nabi Muhammad.” Mereka menambahkan jari kelingking memberi isyarat empat. Lalu mereka berkata,”Satu, dua, tiga, empat ini adalah makhluk.” Jawab mereka sambil menunjukkan keempat jarinya. Mereka memaksudkan yang makhluk adalah keempat jarinya, meskipun yang mendengamya mengira mereka mengakui bahwa al-Qur`an dan kitab-kitab Allah yang lain adalah makhluk. Itulah tawriyah.
Tinggal Imam Ahmad bin Hanbal yang bertahan. Tak ayal lagi beliau diseret dan dimasukkan ke dalam penjara sambil menunggu persidangan. Di dalam penjara Imam Ahmad didatangi oleh sahabat-sahabat dan murid-muridnya. Mereka semua mengharap supaya Imam Ahmad mengambil rukhshah sehingga bisa meneruskan kajian di masjid seperti biasanya. Mereka membawakan ayat dan hadits-hadits yang membolehkan seorang muslim mengambil rukhshah, boleh mengucapkan kata-kata kufur asalkan hatinya tetap berada di dalam iman di saat nyawanya terancam.
Setelah semua orang menyajikan argumen masing-masing, giliran Imam Ahmad menjawab. “Bagaimana dengan hadits Khabbab? ” Semua terdiam membisu. Sebab semua tahu yang dimaksud oleh sang Imam. Hadits Khabbab itu berbunyi: Dari Khabbab bin al-Arat ia berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam saat beliau menjadikan kain selimut beliau sebagai bantal di sisi ka’bah. Kami katakan kepada beliau, ‘Mengapa engkau tidak memintakan pertolongan (kepada Allah) bagi kami? Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?’ Beliau menjawab, ‘Di antara umat sebelum kalian ada seseorang yang digalikan lubang untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalamnya, diambillah sebilah gergaji, dan kepalanya pun digergaji di bagian tengahnya. Namun hal itu tidak menyurutkannya dari memegang agamanya kuat-kuat. Lalu diambillah sisir dari besi dan disisirkan pada kepalanya sehingga kulitnya terkelupas dan tampaklah tengkorak kepalanya. Namun hal itu pun tidak membuatnya bergeser dari agamanya. Demi Allah, bersabarlah, kalian, karena Allah akan menyempurnakan agama ini sampai ada orang yang berjalan dari Shan’a menuju Hadramaut, ia tidak takut akan sesuatu pun selain Allah atau serigala yang hendak menerkam kambing-kambingnya. Sungguh, kalian tertalu tergesa-gesa.”‘
Hadits Khabbab yang dimaksud memuat kisah keteguhan segelintir orang yang disiksa karena mempertahankan agamanya. Dan tampaknya sang Imam hendak meneladani orang yang dikisahkan oleh Rasulullah dalam hadits itu. Maka, orang-orang pun pulang dengan tangan kosong. Mereka tinggal menunggu hari eksekusi yang relah ditetapkan.
Hari itu datang. Khalifah telah mengumpulkan orang-orang di halaman istananya. Untuk ‘acara’ eksekusi itu disiapkan tempat khusus sehingga khalayak yang hadir dapat menyaksikan apa yang akan terjadi pada sang Imam.
Di dalam istana, Imam Ahmad yang dibawa menuju tempat khusus yang telah disediakan sempat ditemui oleh salah seorang murid beliau, Imam al-Marwaziy. “Wahai Ustadz, Allah telah berfirrnan, ‘Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri!’(QS. an-Nisa’: 29)
“Wahai Marwaziy, tengoklah keluar! Apa yang kamu lihat?” jawab Imam Ahmad.
Imam al-Marwaziy menuturkan, ‘Aku lihat lautan manusia. Hanya Allah yang tahu jumlahnya. Mereka semua membawa lembaran kertas dan pena. Mereka siap menulis apa saja yang akan didengar keluar dari lisan sang Imam.”
“Bagaimana menurutmu Marwaziy, haruskan aku menyesatkan mereka semua? Atau tidak mengapa satu nyawa melayang hari ini asalkan mereka semua tidak tersesat? Bagaimana?” tanya sang Imam retoris.
Imam al-Marwaziy memandang dari kejauhan saat Imam Ahmad ditanya pendapatnya tentang al-Qur’an: apakah ia makhluk ataukah kalamullah.
Semua yang hadir terdiam membisu menunggu jawaban sang imam. Mereka telah siap dengan kertas dan pena masing-masing. Dan mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendengar jawaban sang Imam. Dengan tegas dan lantang Imam Ahmad menjawab, “Al-Qur’ an adalah kalamullah!”
Ribuan pena menggores kertas mencatat fatwa sang Imam yang teguh berpijak di atas sunnah seiring cambukan pertama yang dilakukan oleh algojo khalifah mendera tubuh Imam Ahmad yang lemah. Dalam pandangan Imam Ahmad siksa yang menderanya belum ada apa-apanya dibandingkan siksaan yang dialami oleh lelaki yang disebut Nabi dalam hadits Khabbab. Imam al-Marwaziy hanya bisa diam dan berdoa kepada Allah saat menyaksikan tubuh lemah sang Imam dicambuk tak kurang dari 40 kali oleh para algojo yang bergantian melakukannya. Sampai tubuh lemah itu terkulai pingsan tanpa daya.

Abu Yazid dan Hati Sufi di Bashrah


Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Secara langsung dan tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”.
Syaikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: “Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah”.
“Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya sang sufi.
“Cukup” jawab Syaikh Abu Yazid.
“Ada berapa?” sang sufi bertanya lagi.
“200 dirham” jawab Syaikh Abu Yazid.
Sang sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: “Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali”.
Ternyata Syaikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada sang sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya sang sufi itu mengungkapkan: “Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka’bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka’bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka’bah semenjak didirikannya, sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya”.
Syaikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan sang sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: “Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju ka’bah” perintahnya.
Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang wali super agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang wali besar (wafat tahun 645 H.) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada seorang wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).

Minta Pelajaaran Dari Pembantu Guru

Imam Hambali dengan segera menemui Imam Syafei begitu beliau mendengar Gurunya tsb berkunjung ke Bagdad kota tempat beliau tinggal. Lalu beliau mohon kepada Imam Syafei agar sudi memberikan waktu untuk beliau bisa menambah ilmu dari Sang Guru (Hal ini merupakan tradisi jaman dulu yg sangat elegan, meskipun sdh begitu tingginya ilmu Sang Murid, tetapi masih selalu menghormati gurunya dan tetap minta diberi pelajaran).

Imam Syafei berkata: “Hai Hambali, sebaiknya kamu minta pelajaran dulu dari pembantuku ini (seorang penggembala kambing) sebelum minta pelajaran kepadaku”. Beliau mencoba menawar agar dapat belajar langsung dari Sang Guru, namun Sang Guru mengulangi perkataannya. Sebagai seorang murid yg taat pada gurunya dia menuruti perintah Sang Guru meskipun ada yg mengganjal dihatinya. Apa sih hebatnya pembantu yg tukang angon ini, shg aku disuruh belajar dari dia??

Untuk mengetahui kedalaman ilmu Pembantu ini, Imam Hambalipun bertanya: “Wahai sdr, apa pendapatmu tentang seseorang yg lupa pada saat shalat sehingga meninggalkan satu rakaat dan terus salam?” Sang Pembantu menjawab: “Apakah aku akan menjawab menurut pendapatmu atau pendapatku?”

Imam Hambali terkejut mendengar jawaban ini, bagamana mungkin seorang Pembantu bisa menawarkan pilihan jawaban, yg biasanya hanya dimiliki oleh org yg berilmu tinggi.. Lalu beliau berkata: “Jawablah menurut pendapatku dan pendapatmu”.

Sang Pembantupun menjawab: “Baiklah, kalau menurut pendapatmu (maksudnya Imam Hambali), apabila lupanya belum lama (kira-kira selama 2 rakaat), maka org itu hanya perlu menambahkan satu rakaat yg ketinggalan tsb lalu sujud syahwi, tetapi kalau sdh cukup lama baru teringat, maka org tsb wajib mengulang shalatnya lalu sujut syahwi”

Imam Hambali terkejut koq orang ini tahu pendapatku..yang ternyata betul sekali karena tuntunannya memang demikian kata beliau dalam hati….

“Nah kalau menurut pendapatku… apabila aku yg melakukan kesalahan tadi, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti pendapatmu itu, tapi aku juga akan melakukan puasa satu tahun lamanya sebagai tebusan atas kesalahanku pada Tuhanku, karena aku merasa sangat takut dan malu telah lupa pada Nya  dan memikirkan hal lain di dalam shalatku”

Imam Hambali terperanjat dan terpana mendengar jawaban Sang Pembantu tadi.. Sekarang aku baru tahu betapa tingginya derajat orang ini, betapa luar biasa kuatnya rasa takut dan rasa malu orang ini kepada Tuhannya…meskipun dia hanya seorang pembantu dan penggembala kambing, yang dimata orang lain mungkin dianggap rendah..pantas Sang Guru menyuruh aku untuk menimba ilmu darinya…kata Imam Hambali dalam hati…

Kesucian dan Kemuliaan Ilmu


Sayyidina Ali K.W berkata:
1. Ilmu adalah pusaka yang mulia.
2. Serendah-rendah ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah yang tampak di anggota-anggota badan.
3. Tetaplah mengingat ilmu di tengah orang-orang yang tidak menyukainya, dan mengingat kemuliaan yang terdahulu di tengah orang-orang yang tidak memiliki kemuliaan, karena hal itu termasuk di antara yang menjadikan keduanya dengki terhadapmu.
4. Jika Allah hendak merendahkan seorang hamba, maka Dia mengharamkan terhadapnya ilmu.
5. Jika mayat seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, maka muncullah empat api. Lalu datanglah shalat (yang biasa dikerjakannya), maka ia memadamkan satu api. Lalu datanglah puasa, maka ia memadamkan api yang satunya lagi (api kedua). Lalu datanglah sedekah, maka ia memadamkan api yang satunya lagi. Lalu datanglah ilmu, maka ia memadamkan api yang keempat seraya berkata, �Seandainya aku menjumpai api-api itu, niscaya akan aku padamkan semuanya. Oleh karena itu, bergembiralah kamu. Aku senantiasa bersamamu, dan engkau tidak akan pernah melihat kesengsaraan.�
6. Janganlah engkau membicarakan ilmu dengan orang-orang yang kurang akal karena mereka hanya akan mendustakanmu, dan tidak pula kepada orang-orang bodoh karena mereka hanya akan menyusahkanmu. Akan tetapi, bicarakanlah ilmu dengan orang yang menerimanya dengan penerimaan yang baik dan yang memahaminya.
7. Cukuplah ilmu itu sebagai kemuliaan bahwasanya ia diaku-aku oleh orang yang bukan ahlinya dan senang jika dia dinisbatkan kepadanya.

4 Nasihat Rasulullah SAW kepada Siti Ai’syah RA

 

Ada 4 (empat) buah Nasihat Rasulullah SAW kepada Istrinya tercinta Siti Ai’syah Rodliyallohu Anha… :

  1. Ya Ai’syah…. Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENGHATAMKAN AL-QUR’AN….
  2. Ya Ai’syah…. Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN SYAFAAT DARI PARA RASUL dan NABI….
  3. Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN RIDHO’ dari SELURUH KAUM MUSLIMIN….
  4. Dan Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN PAHALA UMROH DAN HAJJI …..
Siti Ai’syah lalu bertanya Kepada Rasulullah SAW,
Ya Rasulullah… Bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan empat fadhilah tersebut dalam satu malam ?
bisa MENGHATAMKAN AL-QUR’AN- bisa MENDAPATKAN SYAFAAT DARI PARA RASUL dan NABI-
bisa MENDAPATKAN RIDHO’ dari SELURUH KAUM MUSLIMIN- dan bisa MENDAPATKAN PAHALA UMROH DAN HAJJI ?
Rasulullah SAW tersenyum lalu menjawab….
Ya Ai’syah…. yang kumaksud dengan : Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENGHATAMKAN AL-QUR’AN adalah : Janganlah Engkau tidur di malam hari SEBELUM MEMBACA SURAH AL-IKHLAS TIGA KALI….
Karena bila engkau membaca Surah Al-Ikhlas 3X sebelum tidur, itu sama halnya engkau membaca seluruh Al-Qur’an.
Ya Ai’syah…. yang kumaksud dengan : Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN SYAFAAT DARI PARA RASUL dan NABI adalah ; Janganlah Engkau tidur di malam hari SEBELUM MEMBACA SHALAWAT bukan hanya kepadaku tapi juga kepada para Nabi dan Rasul… “Allohumma sholli ‘ala Saydina Muhammadin… wa’ala Sya-iril Ambiyaa wal Mursaliin, wa ‘ala alihim wa shohbihim ajma’in” (artinya Ya Allah Sholawat dan Salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada seluruh para Nabi dan Rasul, serta kepada keluarga-keluarga mereka dan sahabat-sahabat mereka).
Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN RIDHO’ dari SELURUH KAUM MUSLIMIN, adalah dengan cara memohon AMPUN kepada ALLAH atas segala dosa-dosamu dan dosa-dosa seluruh Kaum Muslimin. yaitu dengan senantiasa membaca ” Robbighfirli…wali walidayya…waliman haqqun alayya.. wali jami’il muslimin wal muslimat… wal mu’miniin wal mu’minat… al ahya’i wal amwaat…” (artinya Ya Tuhan kami ampuni aku, ampuni kedua orangtuaku dan siapa2 yang memiliki nasab keturunannya, dan kepada seluruh muslimin dan muslimat, dan mu’minin dan mu’minat… baik yang masih hidup maupun yang sudah mati)
Yang ke empat, Janganlah Engkau tidur di malam hari sebelum engkau MENDAPATKAN PAHALA UMROH DAN HAJJI, yaitu dengan senantiasa membaca Tashbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir… ” Subhanallah.. wal hamdulillah, Wala ilaha illallah Huwallohu Akbar” (artinya Maha Suci Allah… Segala Puji bagi Allah, Tiada sesembahan kecuali Allah, Allah yang Maha Besar).

Kamis, 08 September 2011

Sayyidina Uwais Al Qarni

‎
 
 
*WEJANGAN SPIRITUAL YANG BERHIKMAH* ♫•**•~ Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia? ~•**•♫ ♫•*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• (¯`v´¯)ღ☆ღ♥ بسم الله الرحمن الرحيم ♥ღ☆ღ(¯`v´¯) `•.¸.• ♥♥♥ السّلا م عليکم ورحمةالله وبرکة ♥♥♥♥ •.¸.• Alhamdulillaah….. Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam. Tuhan Yang Maha Rahman. Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah, Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam, Keluarganya, beserta sahabat sahabatnya. ya sohibi,ya sohibah,ya akhi ya ukhti,all ummah muslimin muslimah,how are you to day?, Di PAGI hari jum’at setengan siang yang berbahagia ini teriring do'a dan salam untuk sahabat semua di manapun berada yang senantiasa dalam lindungan Allah, sukses meraih cita, sukses dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari. May Allah blessing our daily,days/days, Aamiin.. ♫•*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• ~* Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia? *~ Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad wa Ashabihil Akhyaar. Rasulullah s.a.w, bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling baik daripada kalangan Tabi‘in ialah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan dengannya ada tanda keputihan (sopak), maka hendaklah kalian meminta kepadanya (Uwais) untuk memintakan ampun bagi kalian semua.” Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Uwais mempunyai seorang ibu yang dia (Uwais) berbuat baik kepadanya, jika dia bersumpah (memohon) kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Oleh karena itu jika engkau berupaya (untuk menemui Uwais) untuk memohonkan ampun bagimu, maka lakukanlah hal itu.” (HR. Muslim) Sayyidina Uwais al Qarni adalah orang yang tidak pernah sekalipun bertemu dengan Rasulullah Saw secara fisik. Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun beliau memendam hasrat kerinduan kepada manusia paling agung itu, namun hasrat hati itu terhalang oleh kondisi harus merawat ibu kandungnya yang telah tua renta. Dalam kurun waktu yang lama, Uwais selalu memikirkan dan mencari cara agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saw. Siang dan malam beliau merenung dan bermunajat dengan penuh pengharapan kepada Allah Azza wa Jalla agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saw, serta agar dapat dikelompokkan kedalam golongan para pengikutnya. Sampai akhirnya doa dan tangisan Uwais dijawab oleh Allah Ta’ala, sehingga Allah memberikan wahyu Nya kepada baginda Rasulullah Saw, mengenai keberadaan orang yang sangat mencintai beliau. Karena itulah kita mengenal sabda Rasul Saww, “Akan datang Nafas Sang Maha Pengasih dari arah Yaman.” Kemudian dengan izin Allah Ta’ala, Rasulullah Saw menemui Uwais dalam alam spiritual, pada pertemuan itu Rasulullah Saw bersabda kepada Uwais, agar jangan meninggalkan ibundanya, sebagai tanda bakti kepada orang tua dan kepatuhan terhadap sunah, dan Rasulullah Saw menyebutkan bahwa Uwais telah termasuk kedalam kelompok pengikut beliau Saw, namun ketika itu Uwais menghendaki hal yang lebih dari itu yakni dia ingin menjadi murid Rasul. Maka Rasulullah Saww akhirnya bersabda bahwa untuk menjadi murid, Uwais harus tetap memelihara rabithah (hubungan batin) dengan Rasulullah Saw itu melalui ketaatan kepada syariat dan sunah serta kecintaan kepada Ahlulbait, bila rabithah itu tetap terjaga, kelak Uwais akan menjadi murid spiritual dan berbai’at kepada penerus beliau Saw yang akan datang mengunjungi Uwais dikemudian hari (Dapat dipahami mungkin inilah dasar dari hadits Rasulullah Saw yang memerintahkan kepada Imam Ali kw dan Sayyidina Umar untuk mengunjungi Uwais al Qarni). Setelah peristiwa itu, Uwais merasakan kebahagiaan yang sangat tak terbendungkan, bahkan kadang-kadang ditengah jalan beliau menyenandungkan syair-syair memuja Rasulullah Saw, dan terkadang masyarakat melihat Uwais (dalam kondisi tafakur) seperti berbicara seorang diri sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan karena kecintaan yang mendalam terhadap diri Baginda Rasul Saww, ketika mendengar bahwa dalam perang Uhud beliau terluka sehingga giginya patah, maka Sayyidina Uwais memukul giginya sampai patah dan berdarah, agar beliau turut merasakan sakit yang dialami oleh Rasul. Maka karena berbagai perilakunya yang dipandang aneh itu, masyarakat menganggap Uwais sebagai orang yang kurang waras atau hilang ingatan. Namun walau bagaimanapun juga beliau tetap memelihara ketaatan kepada syariat dan sunah sebagaimana diwasiatkan oleh Rasulullah Saw. Sampai kemudian tibalah waktunya Imam Ali kw dan Sayyidina Umar mengunjungi Sayyidina Uwais al Qarni. Ketika mereka mencari dan menanyakan kepada masyarakat, tidak seorangpun mengenalnya, hingga disebutkanlah ciri-ciri Uwais al Qarni yang memiliki tanda sopak, barulah masyarakat menunjukkan dan menyebut Sayyidina Uwais sebagai orang aneh dan tidak waras yang selalu menyendiri. Ketika bertemu dengan Imam Ali kw, Sayyidina Uwais al Qarni mencium tangan Imam dan memohon bai’at kepada beliau. Uwais pun berkata, selamat datang wahai maula (Junjungan), wahai penerus Rasul, engkaulah orang yang selama ini aku tunggu dan aku rindukan, engkaulah yang aku harapkan menjadi “Jalan untuk memperoleh doa Rasul.” (Qur’an surah at Taubah ayat 99). Kemudian Imam Ali kw membai’at Sayyidina Uwais al Qarni didalam suluk. Beberapa saat setelah peristiwa itu, Sayyidina Umar bertanya kepada Sayyidina Uwais al Qarni, “Bagaimana mungkin engkau yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saww dapat memperoleh kedekatan dengan beliau, dan memiliki kedudukan khusus disisi Allah Ta’ala?” Mendengar itu, Sayyidina Uwais al Qarni balik bertanya kepada Sayyidina Umar, “Apa yang engkau ketahui tentang Rasulullah Saw?” Kemudian Sayyidina Umar menyebutkan ciri-ciri fisik Rasulullah Saw, Sayyidina Uwais al Qarni menjawab,”Itu hanyalah fisik dari Sayyidina Muhammad Saw, sungguh rugi jika engkau yang selalu bersama Rasulullah Saw hanya mengenal beliau dari sisi itu, sedangkan aku yang berada jauh, mengetahui wujud cahaya beliau Saw yang sempurna.” Semenjak kejadian itu, sayyidina Umar bin Khattab seringkali menyesali dirinya yang tidak maksimal dalam mengambil berkah manfaat dari kehadiran Rasulullah Saw, barangkali karena hal inilah sehingga kita temukan didalam riwayat : “Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Para Wali Allah adalah orang-orang yang paling dicintai Allah, yakni mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam pemberi petunjuk dan para pelita ilmu. Umar pun kemudian menangis mendengar hal itu.” (Hadis riwayat an Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya jilid I hal. 6) •*¨*•.¸¸ ﷲ¸¸.•*¨*♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♫• Sahabat Fillah,mari kita simak ceritanya siapa Sayyidina Uwais al Qarni itu,,, ~** Tak Dikenal Oleh Penduduk Bumi Akan Tetapi Sangat Terkenal Di Langit. Siapakah Dia??? ~** Sahabat Fillah, Pada zaman Nabi Muhammad Saw, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendang, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqaha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya. Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah saw mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau saw, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menjumpai Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menjumpai Nabi saw di Madinah. Sang ibu, walaupun telah udzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi saw yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah ra sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau saw tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah ra untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi saw langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah saw, sayyidatina ‘Aisyah ra dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah saw bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau saw, memandang kepada sayyidina Ali kw dan sayyidina Umar ra dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi saw wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra telah di estafetkan Khalifah Umar ra. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan sayyidina Ali kw mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar ra dan sayyidina Ali k.w memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan shalat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi saw. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Sayyidina Ali kw memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata : “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”. Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais. “Waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan shalat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Dzat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami, ”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.” “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya. “Ya,” jawab kami. Orang itu pun melaksanakan shalat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar ra. Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit. Subhanallah ♫•*¨*•.¸ﷲ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫•*.¸¸ﷲ•**•♫ Sahabat Fillah Sayyidina Uwais al Qarni tidak memperoleh ilmu dari Rasulullah Saw melalui penglihatan dan pendengaran panca inderanya, namun beliau memperolehnya secara ruhani melalui ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah Saww. Sayyidina Uwais al Qarni membentuk dan memelihara rabithah (Ikatan batin) dengan Rasulullah Saww, karena itulah beliau diangkat kepada kedudukannya yang tinggi. Hikmah dari kisah tersebut diatas menjelaskan bahwa seorang pencari jalan ketika belum menemukan pembimbing yang mampu menuntun untuk menempuh perjalanan spiritual, hendaknya terus menerus memohon kepada Allah dengan tulus, dan dengan disertai ketaatan kepada segala perintah Nya. Apabila seseorang melakukan hal ini, niscaya Allah akan mempertemukannya dengan seorang mursyid haq yang merupakan pewaris dari Rasulullah Saw, sebagaimana Sayyidina Uwais akhirnya dipertemukan dengan Imam Ali kw. ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫ by. ~ Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan : Diambil dari kitab “Irsyad ‘ala Salikin – Bimbingan Bagi Penempuh Jalan Ruhani” ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥♫•*.¸¸ Maaf, bila ada salah kata dalam penulisan ini, mohon di benarkan, semoga bermanfaat Selamat pagi setengah siang, selamat beraktifitas di hari jum’at yang mubarrakah, .╔Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ ♥♥♥♥ ║║╔═╦╦╦═╗♥ SALAM SANTUN UHIBBUKUM FILLAH ♥ ║╚╣║║║║╩╣.♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ ♥♥♥♥ (✿◠‿◠✿) ╚═╩═╩═╩Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ ♥ღ ♥ ♥KEEP ISTIQOMAH ♥♥♥ .¸.•´¸.•*¨) ❤Praise be to Allah, May Allah Blessing Us, (¸.•´ (¸.•´♥♥ Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin ♥♫♥♫ •*¨*•.¸ﷲ¨* ♫♥::♥::♥::♥::♥::♥::♥:::♥::♥♫•*.¸¸ﷲ•**•♫ Maaf,,, Disilahkan sahabat-sahabat yang ingin copy  Ikhlas, LILLAAHITA’ALA